Minggu, 11 Februari 2018

Sejarah Dan Perkembangan Klasifikasi Secara Umum


Sejarah dan Perkembangan Klasifikasi Secara Umum
Oleh :
Putu Eka Rani (1712312008)
Progaram D3 Perpustakaan FISIP Universitas Udayana


Abstrak :
        Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui dan mendeskripsikan bagaimana proses sejarah dan perkembangan Klasifikasi secara umum. Secara umum Klasifikasi adalah suatu cara penyusunan atau pengelompokan sesuatu agar menjadi sistematis sedangkan Klasifikasi mahluk hidup adalah pengelompokan mahluk hidup berdasarkan persamaan dan perbedaan ciri yang dimilikinya. Ilmu yang mempelajari tentang klasifikasi mahluk hidup disebut dengan Taksonomi.  Tujuan klasifikasi adalah untuk memudahkan mengenali jenis-jenis makhluk hidup serta memudahkan untuk mengetahui nama –nama ilmiah dalam biologi. Perkembangan klasifikasi makhluk hidup secara garis besar dibagi menjadi dua yaitu berdasarkan dari segi sifatnya dan dari segi pembagian kingdomnya.

Kata kunci: Pengertian Klasifikasi, Tahap Klasifikasi, Sejarah dan Perkembangan Klasifikasi Makhluk Hidup

Latar Belakang :
            Arti Klasifikasi secara umum adalah sesuatu cara menyusun, penggolongan atau pengelompokan sesuatu agar menjadi sistematis. Selain yang diatas klasifikasi juga memiliki beberapa pengertian, yaitu :
a.     Secara etimologi, Klasifikasi berasal dari bahasa Inggris dari kata “classification” dan kata ini berasal dari kata “to classy” yang berarti menggolongkan dan menempatakan benda-benda di suatu tempat.
b.    Menurut Wikipedia, Klasifikasi merupakan kata serapan dari bahasa Belanda, classificatie, yang sendirinya berasal dari bahasa Prancis classification
c.     Klasifikasi merupakan penyusunan bersistem dalam kelompok atau golongan menurut kaidah atau standar yang ditetapkan (KBBI)
d.    Klasifikasi adalah kegiatan mengelompokkan dan menempatkan barang-barang (Ernest Cushing Richardson)
e.     Klasifikasi adalah pengelompokan benda secara logis menurut ciri-ciri kesamaannya (Harrolds Librarians Glossary)
 Klasifikasi Makhluk hidup merupakan proses pengaturan makhluk hidup dalam tingkat-tingkat kesatuan kelasnya yang sesuai secara ideal. Para ahli Biologi telah membuat cabang Biologi khusu mengenai klasifikasi yang disebut Taksonomi. Taksonomi merupakan ilmu tentanfg identifikasi tata nama dan klasifikasi makhluk hidup berdasarkan aturan tertentu. Klasifikasi makhluk hidup menggunakan dasar atau criteria tertentu, yaitu persamaan cirri atau sifat morfologi, fisiologi, dan anatomi yang terdapat pada makhluk hidup.
Sistem klasifikasi makhluk hidup terus berkembang sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya Taksonomi. Saat ini diketahui terdapat 3 (tiga) system klasifikasi makhluk hidup, yaitu Sistem Artifisial (Buatan), Sistem Alami, dan Sistem Filogenetik. Makhluk hidup  yang ada di bumi ini sangat banyak dan beraneka ragam. Bahkan di tiap daerah memiliki jenis makhluk hidup yang khas, yang tidak ditemukan di daerah lain. Adanya keanekaragaman makhluk  ini menjadi suatu masalah dalam mengenal dan mempelajarinya.
Klasifikasi  ini bertujuan untuk mempermudah pengenalan dan pembelajaran terhadap makhluk hidup serta mempermudah dalam mengkomunikasikannya kepada orang lain. Klasifikasi bertujuan untuk menyederhanakan objek studi yaitu mencari keanekaeragaman dalam keseragaman. Kesamaan – kesamaan atau keseragaman itulah yang nantinya akan menjadi dasar dalam pengklasifikasian jadi suatu takson atau suatu unit mempunyai sejumlah kesamaan - kesamaan sifat.

Definisi/ Pengertian Klasifikasi

Secara harafiah klasifikasi adalah suatu cara pengelompokan yang berdasarkan pada ciri-ciri tertentu. Semua ahli biologi menggunakan suatu sistem klasifikasi untuk mengelompokkan tumbuhan ataupun hewan yang memiliki persamaan struktur. Kemudian setiap kelompok tumbuhan ataupu hewan tersebut dipasang-pasangkan dengan kelompok tumbuhan atau hewan lainnya yang memiliki persamaan dalam kategori lain. Hal itu pertama kali diusulkan oleh John Ray yang berasal dari Inggris. Namun ide itu disempurnakan oleh Carl Von Linne (1707-1778), seorang ahli botani berkebangsaan Swedia yang dikenal pada masa sekarng dengan Carolus Linnaeus.
            Untuk mengenali dan mempelajari makhluk hidup secara keseluruhan tidak mudah oleh sebab itu dibuatlah klasifikasi sebagai pengelompokan makhluk hidup.

Tujuan Klasifikasi

a.     Mengelompokkan makhluk hidup berdasarkan persamaan ciri-ciri yang dimiliki
b.    Mengetahui ciri-ciri suatu jenis makhluk hidup untuk membedakannya dengan makhluk hidup dari jenis lain
c.     Mengetahui hubungan kekerabatan makhluk hidup

d.    Memberi nama makhluk hidup yang belum diketahui namanya atau belum memiliki nama serta Mempermudah mengenali mahluk hidup

e.    Membandingkan dan mempelajari makhluk hidup. Membandingkan berarti mencari persamaan dan perbedaan sifat atau ciri pada makhluk hidup.

Berdasarkan tujuan tersebut, sistem klasifikasi makhluk hidup memiliki manfaat seperti berikut:
 1. Memudahkan kita dalam mempelajari makhluk hidup yang sangat beraneka ragam.
 2. Mengetahui hubungan kekerabatan antara makhluk hidup satu dengan yang lain.


Tahap Klasifikasi
            Tahap Klasifikasi

Tahapan dalam klasifikasi mahluk hidup yang dilakukan oleh Linnaeus adalah sebagai berikut :
a.     Pencandraan atau identifikasi, yaitu proses mengidentifikasi atau mendeskripsikan ciri-ciri mahluk      hidup yang akan diklasifikasi.
b.    Pengelompokan, yaitu mengelompokkan mahluk hidup berdasarkan ciri-ciri yang dimilikinya. Mahluk hidup yang mempunyai ciri-ciri yang sama dikelompokkan dalam satu kelompok yang sama yang disebut dengan takson, dan ilmu yang mempelajarinya disebut taksonomi
c.     Pemberian nama (Bionium Nomenclature) takson. Mahluk hidup yang telah dikelompokkan tadi, selanjutnya diberi nama untuk mempermudah kita mengenal ciri-ciri suatu kelompok mahluk hidup tertentu.






Sejarah dan Perkembangan Klasifikasi

           
Masa sejarah dan perkembangan Klasifikasi Makhluk Hidup dibagi menjadi beberapa sistem berdasarkan cara pemilihan sifat dalam penyusunan klasifikasi, adapun pembagian tersebut antara lain :

Klasifikasi Sistem Manfaat/ Periode tertua
Dalam periode ini secara formal belum dikenal adanya system klasifikasi yang diakui (sejak ada kegiatan dalam taksonomi sampai kira-kira abad ke-4 sebelum masehi). Sejak awal kehidupan manusia bergantung pada bahan-bahan yang berasal dari tumbuhan, manusia sejak dahulu telah melakukan kegiatan-kegiatan yang termasuk dalam lingkup taksonomi, seperti mengenali dan memilah-milah tumbuhan mana yang berguna baginya dan yang mana yang tidak, termasuk pemberian nama, sehingga apa yang ditemukan dapat dikomunikasikan kapada pihak lain.
Dalam zaman prasejarah orang telah mengenal tumbuh-tumbuhan penghasil bahan pangan yang penting seperti yang kita kenal sampai saat ini. Jenis-jenis tumbuhan ini diperkirakan telah diperkenal sejak 7 sampai 10 ribu tahun yang telah lalu, telah dibudidayakan oleh bangsa Mesir, China, Asiria dan Tigris Di Timur Tengah serta bangsa-bangsa Indian di Amerika Utara dan Selatan, sejak beberapa ribu tahun yang lalu telah dikenal berbagai jenis tumbuhan yang merupakan penghasil bahan pangan, sandang, dan bahan obat yang berarti bahwa sebenarnya merekapun telah menerapkan suatu sistem klasifikasi, dalam hal ini suatu system klasifikasi yang didasarkan atas manfaat tumbuhan, sehingga tidak dapat dianggap sebagai system buatan yang tertua.
Jelaslah bahwa sejak berpuluh – puluh abad yang lalu orang telah terjun dalam kegiatan – kegiatan taksonomi tumbuhan, walaupun pengetahuan yang telah mereka kumpulkan belum begitu berarti, juga belum ditata, belum menunjukan hubungan sebab dan akibat, sehingga belum dapat disebut sebagai ilmu pengetahuan (science) menurut ukuran sekarang.
Sekalipun tidak ada bukti-bukti konkrit yang berwujud peninggalan-peninggalan yang berupa dokumen-dokumen atau bentuk karya tulis lainnya, tidak perlu diragukan lagi bahwa sesuai dengan pernyataan Bloembergen, permulaan taksonomi tumbuhan harus digali dari kedalaman sejarah peradaban manusia di bumi ini.


Periode system Habitus/ Bentuk
Taksonomi tumbuhan sebagai ilmu pengetahuan baru di anggap pada abad ke-4 sebelum Masehi oleh orang-orang Yunani yang dipelopori oleh Theophrastes (370-285 SM) seorang murid dari filsuf Yunani bernama Aristoteles. Aristoteles sendiri adalah murid filsuf Yunani yang semashur yaitu plato. Aristoteles adalah filusuf Yunani (384-422) adalah orang yang pertama merintismengadakan klasifikasi hewanberdasarkan ciri-cirinya. Dia berhasil mengelompokan seribu jenis hewan tang dikenalnya. Oleh sebab itu, dia dijuluki bapa zoologi. Sistem klasifikasi yang diusulkan bangsa Yunani dengan Theophrastes sebagai pelopornya juga diikuti oleh kaum herbalis serta ahli-ahli botani dan nama itu terus dipakai sampai selama lebih 10 abad.
Pengklasifikasian tumbuhan terutama didasarkan atas perawakan (habitus) yang golongan-golongan utamanya disebut dengan nama pohon, perdu, semak, tumbuhan memanjat, dan terna. System klasifikasi ini bersifat dominan dari kira-kira abad ke-4 sebelum masehi sampai melewati abad pertengahan, dan selama periode-periode ini ahli-ahli botani, herbalis, dan filsuf telah menciptakan sistem-sistem klasifikasi yang pada umumnya masih bersifat kasar, namun sering dinyatakan telah mencerminkan adanya hubungan kekerabatan antara golongan yang terbentuk.
Theophrastes sendiri yang dianggap sebagai bapaknya ilmu tumbuhan, dalam karyanya yang berjudul Historia Plantarum telah memperkenalkandan memberikan deskripsinya untuk sekitar 480 jenis tumbuhan. Dalam karya ini system klasifikasi yang diterapkan oleh Theoprastes telah mencerminkan falsafah guru dan eyang gurunya ( Aristoteles dan Plato), yaitu suatu suatu system klasifikasi tumbuhan berdasarkan bentuk dan tekstur. Selain golongan-golongan pohon, perdu, semak seperti yang disebut di atas, ia juga mengadakan pengelompokan menurut umur dan membedakan tumbuhan berumur pendek (annual), tumbuhan berumur 2 tahun (biennial), serta tumbuhan berumur panjang (perennial)


Periode Sistem Buatan/ Artificial
Klasifikasi sistem buatan diperkenalkan oleh Carl von Linne (1707-1778), ahli ilmu pengetahuan alam swedia yang namanya dilatinkan menjadi Carolus Linnaeus. Sistem yang telah disusun yaitu sistem klasifikasi buatan. Maksudnya, kategori organisme didasarkan pada sejumlah kecil sifat-sifat morfologi tanpa memandang kesamaan struktur yang mungin memperlihatkan kekerabatan. Klasifikasi sistem buatan ini antara lain mengelompokkan tumbuhan atas atas dasar bunga, masa bunga, bentuk bunga, bentuk daun, jumlah benang sari, putik dan lain-lain. Sistem klasifikasi buatan menggunakan sistem nomenklatur.
            Sistem klasifikasi tumbuhan yang diciptakan oleh Linnaeus masih dikategorikan sebagai sistem artivisial. Nama Sistema Sexsuale untuk sistem yang diciptakan sebenarnya tidak begitu tepat, karena pada dasarnya sistem ini tidak ditekankan pada masalah jenis kelamin, tetapi pada kesamaan jumlah alat-alat kelamin seperti jumlah benang sari. Nama-nama golongan tumbuhan yang diciptakan oleh linnaeus seperti monandria (berbenang sari tunggal), diandria (berbenang sari dua), triandria (berbenang sari tiga) dan seterusnya.
Itulah sebabnya sistem klasifikasi tumbuhan ciptaan Linnaeus dikenal pula sebagai sistem numerik.
            Ciptaan Linnaeus ini merupakan sistem yang dinilai revolusioner untuk masa itu, dan memberikan pengaruh yang lebih besar dari pada sumbangan linnaeus yang lain, dan sistem ini sengaja dirancang sebagai alat bantu dalam mengidentifikasi tumbuhan dan ia juga dianggap sebagai pencipta sistem tatanama ganda yang diterapkan dalam bukunya Species plantarum yang diterbitkan pada tanggal 1 mei 1753 yang menjadi pangkal tolak berlakunya tatanama tumbuhan yang diakui.
            Sesungguhnya linnaeus dianggap tidak tepat bila ia sebagai pencipta tatanama ganda. Sebelim linnaeus, sistem tatanama ganda telah dirintis oleh caspar bauhin, yang dalam tahun 1623 dalam bukunya pinax theatri botanici telah menerapkan sistem tatanama ganda pada tumbuhan. Karena besar jasa-jasa yang diberikan oleh linnaeus bagi perkembangan taksonomi pada umumnya dan taksonomi tumbuhan khususnya bagi dunia ilmu hayat linnaeus mendapatkan gelar sebagai “bapak taksonomi” baik hewan maupun tumbuhan dan juga mendapat pengakuan dari negara yang diberikan oleh raja swedia yang mengangkat linnaeus ke jenjang bangsawan, sehingga nama karl linne diubah menjadi karl von linne. Linneaus juga berperan penting dalam taksonomi tumbuhan yang membangkitkan minat dan semangat siswa yang kemudian beberapa diantaranya menjadi tokoh seperti gurunya. Diantaranya adalah Peter Kalm (1716-1779), F. Hasselquist (1722-1752), P Forskal (1731-1760), C.P. Thunberg (1743—1828), J. A. Murray (1740-1791), J. Roener (1763-1819), C. L. Wildenow (1765-1812), dan J. Schultes (1773-1831).

Periode Sistem Alamiah
Menjelang berakhirnya abad ke-18 terjadi perubahan-perubahan yang revolusioner dalam pengklasifikasiaan tumbuhan. Sistem klasifikasi yang baru ini disebut “sistem alam” yaitu golongan yang terbentuk merupakan unit-unit ynag wajar (natural) bila terdiri dari anggota-anggota itu,dan dengan demikian dapat tercermin pengertian manusia mengenai yang disebut yang dikehendaki oleh alam. Secara harfiah istilah “sistem alam” untuk aliran baru dalam klasifikasi ini tidak begitu tepat karena pada hakekatnya semua sistem klasifikasi adalah sistem buatan. Untuk sitem klasifikasi yang digunakan dalam periode ini, digunakan nama “sistem alam” (natural system) dengan maksud untuk memenuhi keinginan manusia akan adanya penataan yang tepat yang lebih baik dari sistem-sistem sebelumnya.

Periode Sistem Filogenetik
Teori evolusi, teori desendensd atau teori keturunan seperti yang diciptakan oleh darwin merupakan suatru teori hingga sekarang oleh sebagian orang terutama tokoh agama masih dianggap kontroversial dan tetap ditentang kendati ajaran itu tetap diterima dan cepat tersebar luas dikalangan kaum ilmuan yang begitu fanatik terhadap teori ini sampai ada yang menyatakan, bahwa “ evolusi bukannya teori lagi, tetapi adalah suatu aksioma yang tidak perlu diragukan kebenarannya, dan oleh karenanya tidak perlu diperdebatkan lagi “.
Sistem klasifikasi dalam periode ini berupaya untuk mengadakan penggolongan tumbuhan yang sekaligus mencerminkan urutan – urutan golongan itu dalam sejarah perkembangan filogenetiknya dan demikian juga menunjukan jauh dekatnya hubungan kekerabatan yang satu dengan yang lain. Jadi dalam klasifikasi ini dasar yang digunakan adalah “filogeni” dan dari sini lahirlah nama “sistem filogenetik” kenyataanya, bahwa kemudian muncul sistem klasifikasi yang berbeda, membuktikan bahwa persepsi dan interpretasi para ahli biologi mengenai yang disebut filogeni itu masih berbeda – beda.
Diantaranya tokoh-tokoh ahli taksonomi dimasa ini adalah Alexander Braun (1805-1877), A. W. Eichler (1839-1887), Adolp Engler (1844-1930), Charles E. Besseu (1845-1915), Richard Werrstein (1862-1831 M), Alfred B. Rendle (1865-1939), Karl C. Mets (1866-1944), Hans Halliers (Johan Gottfried Hallier) (1868-1932), August A. Pulle (1878), Carl Skottberg (1880), dan John Hutchinson (1884-1972).

Sistem Klasifikasi Kontemporer
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat dalam abad ke-20 ini pasti akan berpengaruh pula terhadap perkembangan ilmu taksonomi tumbuhan. Kecenderungan untuk mengkuantitatifkan data penelitian dan penerapan matematika dalam pengolahan data yang diperoleh telah menyusup pula ke dalam ilmu-ilmu sosial yang semula tak pernah atau belum memanfaatkan matematika serta belum mempertimbangkan pula kemungkinan-kemungkinan yang dapat di capai dengan penerapan pendekatan kuantitatif matematik.
Perkembangan teknologi, khususnya di bidang elektronika yang dalam abad nuklir maju dengan pesat ini, telah pula menjamah bidang taksonomi tumbuhan, yang sejak beberapa dasawarsa belakangan ini juga sudah di jalari “penyakit” penerapan metode penelitian kuantitatif yang pengelohan datanya memanfaatkan jasa-jasa komputer pula. Komputer telah digunakan secara luas dalam pengembangan metode kuantitatif dalam klasifikasi tumbuhan, yang melahirkan bidang baru dalam taksonomi tumbuhan yang dikenal sebagai taksonomi numerik,taksometri atau taksonometri.
Pengolahan data secara elektronik (EDP—Elektronic Data Processing), juga sudah diterapkan untuk berbagai prosedur dalam penelitian taksonomi antara lain dalam penyimpanan dan pengambilan laporan-laporan atau informasi.


Klasifikasi Makhluk Hidup Berdasarkan Pembagian Kingdom
 I. Sistem Klasifikasi 2 Kingdom
Aristoteles (400 SM – 1800an) membagi makhluk hidup menjadi 2 dunia yaitu berdasarkan
1.     Regnum Vegetabile (Kerajaan tumbuhan)
2.     Regnum Animalia (Kerajaan hewan)

II. Sistem klasifikasi 3 Kingdom
E. HaeckeL (1866) mengusulkan sistem klasifikasi makhluk hidup atas 3 dunia berdasarkan kenampakan morfologi (mikroskopis) dan fisiologi, yaitu:
1.     Protista (Bersel tunggal)
2.     Animalia (Hewan) 
3.     Plantae (Tumbuhan)   
Pada tahun 1937 Chatton membagi makhluk hidup dalam dua kelompok besar berdasarkan struktur organisasi internal sel :
a.     Prokariotik : tidak memiliki organela
b.    Eukariotik : memiliki organela

III. Sistem Empat Kingdom
Copeland (1938) mencetuskan Sistem empat kingdom terdiri atas kingdom yaitu :
-   Monera (Prokaryote, organisme bersel satu tanpa inti sel) contoh : Bakteria
-   Fungi/Protista (Eukaryote, organisme bersel satu dengan inti sel)
-   Plantae (Tumbuhan)
-   Animalia (Hewan)
Kingdom Fungi dipisahkan dari Plantae karena tidak mempunyai klorofil walaupun sama-sama mempunyai dinding sel.

IV.         Sistem 5 Kingdom
  Robert H. Whittaker (1969) mencetuskan sistem 5 dunia berdasarkan struktur organisasinternal sel, struktur organisasi sel dan tipe nutrisi sel:
1.     Monera
2.     Protista
3.     Fungi
4.     Animalia
5.     Plantae

V. Sistem 3 domain
Berkembangnya biologi molekular, Carl Woese (1978) membagi makhluk menjadi 3 domain hasil dari analisis urutan RNA sub unit kecil. Yaitu Bacteria, Archaea, dan Eukarya.

VI. Sistem klasifikasi 6 Kingdom
Carolt J. Bult et al. (1996) menguji hipotesis C. Woose dengan hasil yaitu kemiripan antara domainArkhae dan domain Bacteria hanya ≤ 50%. Selanjutnya, para pakar biologi sepakat telah menggunakan 3 domain dan 6 dunia, yaitu:
1.            Bacteria
2.            Archaea
3.            Fungi
4.            Protista
5.            Animalia
6.            Plantae

Kesimpulan

Berdasarkan dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa klasifikasi  makhluk hidup adalah ilmu yang mempelajari proses pengaturan makhluk hidup dalam tingkat-tingkat kesatuan kelasnya yang sesuai secara ideal. Ini dicapai dengan menyatukan golongan-golongan yang sama dan memisahkan golongan-golongan yang berbeda. Sistem penyusunan ini berasal dari kumpulan informasi makhluk hidup secara individual yang menggambarkan kekerabatan.
Adapun tujuan klasifikasi makhluk hidup yaitu untuk mengelompokkan makhluk hidup berdasarkan persamaan ciri-ciri yang dimiliki, mengetahui ciri-ciri untuk mengetahui hubungan kekerabatan makhluk hidup tersebut. Sistem klasifikasi makhluk hidup dapat dibedakan menjadi 2, yaitu berdasarkan dari segi sifatnya dan dari segi pembagian kingdomnya. Salah satu pembagiannya makhluk hidup dibagi kedalam 6 kingdom yaitu Eubacteria, Archaebacteria, protista, fungi, plantae, dan animalia.




DAFTAR PUSTAKA
Ecrivain, Misterluthfi. (2013). Perkembangan Sistem Klasifikasi Makhluk Hidup. Diakses 11 Februari 2018
            http://www.zonabiokita.web.id/2013/06/perkembangan-sistem-klasifikasi-makhluk.html
Tentorku. (2015). Sejarah dan Definisi Taksonomi. Diakses 11 Februari 2018
            http://www.tentorku.com/taksonomi-definisi-dan-sejarah-awal/
Hartono, Juni. (2015). Klasifikasi 5 Kingdom, 6 Kingdom, 2 Kingdom, 3 Kingdom, 4 Kingdom (Klasifikasi Kingdom). Diakses 11 Februari 2018
            http://www.biomagz.com/2015/11/klasifikasi-5-kingdom-6-kingdom-2.html
Ariani, Sri. (2017), Sejarah Dan Perkembangan Klasifikasi Secara Umum, Diakses 11 Februari 2018 http://arianisri.blogspot.co.id/2017/02/sejarah-dan-perkembangan-klasifikasi.html
Ryana, Dwi. (2017), Sejarah Dan  Perkembangan Klasifikasi Tumbuhan Secara Umum, Diakses 11 Februari 2018


Tidak ada komentar:

Posting Komentar