Sejarah dan Perkembangan Klasifikasi Secara Umum
Oleh :
Putu Eka Rani (1712312008)
Progaram D3
Perpustakaan FISIP Universitas Udayana
Abstrak :
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk
mengetahui dan mendeskripsikan bagaimana proses sejarah dan perkembangan
Klasifikasi secara umum. Secara umum Klasifikasi adalah suatu cara penyusunan
atau pengelompokan sesuatu agar menjadi sistematis sedangkan Klasifikasi
mahluk hidup adalah pengelompokan mahluk hidup berdasarkan persamaan dan
perbedaan ciri yang dimilikinya. Ilmu yang mempelajari tentang klasifikasi
mahluk hidup disebut dengan Taksonomi. Tujuan klasifikasi
adalah untuk memudahkan mengenali jenis-jenis makhluk hidup serta memudahkan
untuk mengetahui nama –nama ilmiah dalam biologi. Perkembangan klasifikasi
makhluk hidup secara garis besar dibagi menjadi dua yaitu berdasarkan dari segi
sifatnya dan dari segi pembagian kingdomnya.
Kata kunci: Pengertian Klasifikasi, Tahap Klasifikasi,
Sejarah dan Perkembangan Klasifikasi Makhluk Hidup
Latar Belakang :
Arti Klasifikasi secara umum adalah
sesuatu cara menyusun, penggolongan atau pengelompokan sesuatu agar menjadi
sistematis. Selain yang diatas klasifikasi juga memiliki beberapa pengertian,
yaitu :
a.
Secara
etimologi, Klasifikasi berasal dari bahasa Inggris dari kata “classification” dan kata ini berasal
dari kata “to classy” yang berarti
menggolongkan dan menempatakan benda-benda di suatu tempat.
b.
Menurut
Wikipedia, Klasifikasi merupakan kata serapan dari bahasa Belanda, classificatie, yang sendirinya berasal
dari bahasa Prancis classification
c.
Klasifikasi
merupakan penyusunan bersistem dalam kelompok atau golongan menurut kaidah atau
standar yang ditetapkan (KBBI)
d.
Klasifikasi
adalah kegiatan mengelompokkan dan menempatkan barang-barang (Ernest Cushing
Richardson)
e.
Klasifikasi
adalah pengelompokan benda secara logis menurut ciri-ciri kesamaannya (Harrolds
Librarians Glossary)
Klasifikasi Makhluk hidup merupakan proses
pengaturan makhluk hidup dalam tingkat-tingkat kesatuan kelasnya yang sesuai
secara ideal. Para ahli Biologi telah membuat cabang Biologi khusu mengenai
klasifikasi yang disebut Taksonomi. Taksonomi merupakan ilmu tentanfg
identifikasi tata nama dan klasifikasi makhluk hidup berdasarkan aturan
tertentu. Klasifikasi makhluk hidup menggunakan dasar atau criteria tertentu,
yaitu persamaan cirri atau sifat morfologi, fisiologi, dan anatomi yang
terdapat pada makhluk hidup.
Sistem klasifikasi makhluk hidup terus
berkembang sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya Taksonomi. Saat ini diketahui
terdapat 3 (tiga) system klasifikasi makhluk hidup, yaitu Sistem Artifisial
(Buatan), Sistem Alami, dan Sistem Filogenetik. Makhluk hidup yang
ada di bumi ini sangat banyak dan beraneka ragam. Bahkan di tiap daerah
memiliki jenis makhluk hidup yang khas, yang tidak ditemukan di daerah
lain. Adanya keanekaragaman makhluk ini menjadi
suatu masalah dalam mengenal dan mempelajarinya.
Klasifikasi ini bertujuan untuk mempermudah
pengenalan dan pembelajaran terhadap makhluk hidup serta mempermudah dalam
mengkomunikasikannya kepada orang lain. Klasifikasi bertujuan untuk
menyederhanakan objek studi yaitu mencari keanekaeragaman dalam keseragaman.
Kesamaan – kesamaan atau keseragaman itulah yang nantinya akan menjadi dasar
dalam pengklasifikasian jadi suatu takson atau suatu unit mempunyai sejumlah
kesamaan - kesamaan sifat.
Definisi/ Pengertian
Klasifikasi
Secara
harafiah klasifikasi adalah suatu cara pengelompokan yang berdasarkan pada
ciri-ciri tertentu. Semua ahli biologi
menggunakan suatu sistem klasifikasi untuk mengelompokkan tumbuhan ataupun
hewan yang memiliki persamaan struktur. Kemudian setiap kelompok tumbuhan ataupu
hewan tersebut dipasang-pasangkan dengan kelompok tumbuhan atau hewan lainnya
yang memiliki persamaan dalam kategori lain. Hal itu pertama kali diusulkan
oleh John Ray yang berasal dari Inggris. Namun ide itu disempurnakan oleh Carl Von Linne (1707-1778), seorang ahli botani berkebangsaan Swedia yang dikenal
pada masa sekarng dengan Carolus Linnaeus.
Untuk mengenali dan mempelajari makhluk hidup
secara keseluruhan tidak mudah oleh sebab itu dibuatlah klasifikasi sebagai
pengelompokan makhluk hidup.
Tujuan Klasifikasi
a. Mengelompokkan makhluk hidup berdasarkan
persamaan ciri-ciri yang dimiliki
b. Mengetahui ciri-ciri suatu jenis makhluk hidup
untuk membedakannya dengan makhluk hidup dari jenis lain
c. Mengetahui hubungan kekerabatan makhluk hidup
d. Memberi nama makhluk hidup yang belum diketahui namanya atau belum memiliki nama serta Mempermudah mengenali mahluk hidup
e. Membandingkan dan mempelajari makhluk hidup.
Membandingkan berarti mencari persamaan dan perbedaan sifat atau ciri pada
makhluk hidup.
Berdasarkan tujuan tersebut, sistem klasifikasi makhluk hidup
memiliki manfaat seperti berikut:
1. Memudahkan kita dalam mempelajari makhluk hidup yang
sangat beraneka ragam.
2. Mengetahui
hubungan kekerabatan antara makhluk hidup satu dengan yang lain.
Tahap Klasifikasi
Tahap Klasifikasi
Tahapan dalam klasifikasi mahluk hidup yang dilakukan
oleh Linnaeus adalah sebagai berikut :
a. Pencandraan atau identifikasi, yaitu proses
mengidentifikasi atau mendeskripsikan ciri-ciri
mahluk hidup yang akan diklasifikasi.
b. Pengelompokan, yaitu mengelompokkan mahluk
hidup berdasarkan ciri-ciri yang dimilikinya. Mahluk hidup yang mempunyai
ciri-ciri yang sama dikelompokkan dalam satu kelompok yang sama yang
disebut dengan takson, dan ilmu yang mempelajarinya disebut taksonomi
c. Pemberian nama (Bionium Nomenclature) takson.
Mahluk hidup yang telah dikelompokkan tadi, selanjutnya diberi nama untuk
mempermudah kita mengenal ciri-ciri suatu kelompok mahluk hidup tertentu.
Sejarah dan Perkembangan Klasifikasi
Masa sejarah dan perkembangan Klasifikasi Makhluk Hidup dibagi
menjadi beberapa sistem berdasarkan cara pemilihan sifat dalam penyusunan
klasifikasi, adapun pembagian tersebut antara lain :
Klasifikasi Sistem Manfaat/ Periode tertua
Dalam periode ini secara formal belum dikenal
adanya system klasifikasi yang diakui (sejak ada kegiatan dalam taksonomi
sampai kira-kira abad ke-4 sebelum masehi). Sejak awal kehidupan manusia
bergantung pada bahan-bahan yang berasal dari tumbuhan, manusia sejak dahulu
telah melakukan kegiatan-kegiatan yang termasuk dalam lingkup taksonomi,
seperti mengenali dan memilah-milah tumbuhan mana yang berguna baginya dan yang
mana yang tidak, termasuk pemberian nama, sehingga apa yang ditemukan dapat
dikomunikasikan kapada pihak lain.
Dalam zaman prasejarah orang telah mengenal
tumbuh-tumbuhan penghasil bahan pangan yang penting seperti yang kita kenal
sampai saat ini. Jenis-jenis tumbuhan ini diperkirakan telah diperkenal sejak 7
sampai 10 ribu tahun yang telah lalu, telah dibudidayakan oleh bangsa Mesir,
China, Asiria dan Tigris Di Timur Tengah serta bangsa-bangsa Indian di Amerika
Utara dan Selatan, sejak beberapa ribu tahun yang lalu telah dikenal berbagai
jenis tumbuhan yang merupakan penghasil bahan pangan, sandang, dan bahan obat
yang berarti bahwa sebenarnya merekapun telah menerapkan suatu sistem
klasifikasi, dalam hal ini suatu system klasifikasi yang didasarkan atas
manfaat tumbuhan, sehingga tidak dapat dianggap sebagai system buatan yang
tertua.
Jelaslah bahwa sejak berpuluh – puluh abad
yang lalu orang telah terjun dalam kegiatan – kegiatan taksonomi tumbuhan,
walaupun pengetahuan yang telah mereka kumpulkan belum begitu berarti, juga
belum ditata, belum menunjukan hubungan sebab dan akibat, sehingga belum dapat
disebut sebagai ilmu pengetahuan (science) menurut ukuran sekarang.
Sekalipun tidak ada bukti-bukti konkrit yang
berwujud peninggalan-peninggalan yang berupa dokumen-dokumen atau bentuk karya
tulis lainnya, tidak perlu diragukan lagi bahwa sesuai dengan pernyataan
Bloembergen, permulaan taksonomi tumbuhan harus digali dari kedalaman sejarah
peradaban manusia di bumi ini.
Periode system Habitus/ Bentuk
Taksonomi tumbuhan sebagai ilmu pengetahuan
baru di anggap pada abad ke-4 sebelum Masehi oleh orang-orang Yunani yang
dipelopori oleh Theophrastes (370-285 SM) seorang murid dari filsuf Yunani
bernama Aristoteles. Aristoteles sendiri adalah murid filsuf Yunani yang
semashur yaitu plato. Aristoteles adalah filusuf Yunani (384-422)
adalah orang yang pertama merintismengadakan klasifikasi hewanberdasarkan
ciri-cirinya. Dia berhasil mengelompokan seribu jenis hewan tang dikenalnya.
Oleh sebab itu, dia dijuluki bapa zoologi. Sistem klasifikasi
yang diusulkan bangsa Yunani dengan Theophrastes sebagai pelopornya juga
diikuti oleh kaum herbalis serta ahli-ahli botani dan nama itu terus dipakai
sampai selama lebih 10 abad.
Pengklasifikasian tumbuhan terutama didasarkan
atas perawakan (habitus) yang golongan-golongan utamanya disebut dengan nama
pohon, perdu, semak, tumbuhan memanjat, dan terna. System klasifikasi ini
bersifat dominan dari kira-kira abad ke-4 sebelum masehi sampai melewati abad
pertengahan, dan selama periode-periode ini ahli-ahli botani, herbalis, dan
filsuf telah menciptakan sistem-sistem klasifikasi yang pada umumnya masih
bersifat kasar, namun sering dinyatakan telah mencerminkan adanya hubungan
kekerabatan antara golongan yang terbentuk.
Theophrastes sendiri yang dianggap sebagai
bapaknya ilmu tumbuhan, dalam karyanya yang berjudul Historia Plantarum telah
memperkenalkandan memberikan deskripsinya untuk sekitar 480 jenis tumbuhan.
Dalam karya ini system klasifikasi yang diterapkan oleh Theoprastes telah
mencerminkan falsafah guru dan eyang gurunya ( Aristoteles dan Plato), yaitu
suatu suatu system klasifikasi tumbuhan berdasarkan bentuk dan tekstur. Selain
golongan-golongan pohon, perdu, semak seperti yang disebut di atas, ia juga
mengadakan pengelompokan menurut umur dan membedakan tumbuhan berumur pendek
(annual), tumbuhan berumur 2 tahun (biennial), serta tumbuhan berumur panjang
(perennial)
Periode Sistem Buatan/ Artificial
Klasifikasi
sistem buatan diperkenalkan oleh Carl von Linne (1707-1778), ahli ilmu pengetahuan
alam swedia yang namanya dilatinkan menjadi Carolus Linnaeus. Sistem yang telah
disusun yaitu sistem klasifikasi buatan. Maksudnya, kategori organisme
didasarkan pada sejumlah kecil sifat-sifat morfologi tanpa memandang kesamaan
struktur yang mungin memperlihatkan kekerabatan. Klasifikasi sistem buatan ini
antara lain mengelompokkan tumbuhan atas atas dasar bunga, masa bunga, bentuk
bunga, bentuk daun, jumlah benang sari, putik dan lain-lain. Sistem klasifikasi
buatan menggunakan sistem nomenklatur.
Sistem klasifikasi tumbuhan yang diciptakan oleh Linnaeus masih dikategorikan
sebagai sistem artivisial. Nama Sistema Sexsuale untuk sistem yang diciptakan
sebenarnya tidak begitu tepat, karena pada dasarnya sistem ini tidak ditekankan
pada masalah jenis kelamin, tetapi pada kesamaan jumlah alat-alat kelamin
seperti jumlah benang sari. Nama-nama golongan tumbuhan yang diciptakan oleh
linnaeus seperti monandria (berbenang sari tunggal), diandria (berbenang sari
dua), triandria (berbenang sari tiga) dan seterusnya.
Itulah sebabnya sistem
klasifikasi tumbuhan ciptaan Linnaeus dikenal pula sebagai sistem numerik.
Ciptaan Linnaeus ini merupakan sistem yang dinilai revolusioner untuk masa itu,
dan memberikan pengaruh yang lebih besar dari pada sumbangan linnaeus yang
lain, dan sistem ini sengaja dirancang sebagai alat bantu dalam
mengidentifikasi tumbuhan dan ia juga dianggap sebagai pencipta sistem tatanama
ganda yang diterapkan dalam bukunya Species plantarum yang diterbitkan pada tanggal
1 mei 1753 yang menjadi pangkal tolak berlakunya tatanama tumbuhan yang diakui.
Sesungguhnya linnaeus dianggap tidak tepat bila ia sebagai pencipta tatanama
ganda. Sebelim linnaeus, sistem tatanama ganda telah dirintis oleh caspar
bauhin, yang dalam tahun 1623 dalam bukunya pinax theatri botanici telah
menerapkan sistem tatanama ganda pada tumbuhan. Karena besar jasa-jasa yang
diberikan oleh linnaeus bagi perkembangan taksonomi pada umumnya dan taksonomi
tumbuhan khususnya bagi dunia ilmu hayat linnaeus mendapatkan gelar sebagai
“bapak taksonomi” baik hewan maupun tumbuhan dan juga mendapat pengakuan dari
negara yang diberikan oleh raja swedia yang mengangkat linnaeus ke jenjang
bangsawan, sehingga nama karl linne diubah menjadi karl von linne. Linneaus
juga berperan penting dalam taksonomi tumbuhan yang membangkitkan minat dan
semangat siswa yang kemudian beberapa diantaranya menjadi tokoh seperti
gurunya. Diantaranya adalah Peter Kalm (1716-1779), F. Hasselquist (1722-1752),
P Forskal (1731-1760), C.P. Thunberg (1743—1828), J. A. Murray (1740-1791), J.
Roener (1763-1819), C. L. Wildenow (1765-1812), dan J. Schultes (1773-1831).
Periode Sistem Alamiah
Menjelang berakhirnya abad ke-18 terjadi
perubahan-perubahan yang revolusioner dalam pengklasifikasiaan tumbuhan. Sistem
klasifikasi yang baru ini disebut “sistem alam” yaitu golongan yang terbentuk
merupakan unit-unit ynag wajar (natural) bila terdiri dari anggota-anggota
itu,dan dengan demikian dapat tercermin pengertian manusia mengenai yang disebut
yang dikehendaki oleh alam. Secara harfiah istilah “sistem alam” untuk aliran
baru dalam klasifikasi ini tidak begitu tepat karena pada hakekatnya semua
sistem klasifikasi adalah sistem buatan. Untuk sitem klasifikasi yang digunakan
dalam periode ini, digunakan nama “sistem alam” (natural system) dengan maksud
untuk memenuhi keinginan manusia akan adanya penataan yang tepat yang lebih
baik dari sistem-sistem sebelumnya.
Periode Sistem Filogenetik
Teori evolusi, teori desendensd atau teori
keturunan seperti yang diciptakan oleh darwin merupakan suatru teori hingga
sekarang oleh sebagian orang terutama tokoh agama masih dianggap kontroversial
dan tetap ditentang kendati ajaran itu tetap diterima dan cepat tersebar luas
dikalangan kaum ilmuan yang begitu fanatik terhadap teori ini sampai ada yang
menyatakan, bahwa “ evolusi bukannya teori lagi, tetapi adalah suatu aksioma
yang tidak perlu diragukan kebenarannya, dan oleh karenanya tidak perlu
diperdebatkan lagi “.
Sistem klasifikasi dalam periode ini berupaya
untuk mengadakan penggolongan tumbuhan yang sekaligus mencerminkan urutan –
urutan golongan itu dalam sejarah perkembangan filogenetiknya dan demikian juga
menunjukan jauh dekatnya hubungan kekerabatan yang satu dengan yang lain. Jadi
dalam klasifikasi ini dasar yang digunakan adalah “filogeni” dan dari sini
lahirlah nama “sistem filogenetik” kenyataanya, bahwa kemudian muncul sistem
klasifikasi yang berbeda, membuktikan bahwa persepsi dan interpretasi para ahli
biologi mengenai yang disebut filogeni itu masih berbeda – beda.
Diantaranya tokoh-tokoh ahli taksonomi dimasa
ini adalah Alexander Braun (1805-1877), A. W. Eichler (1839-1887), Adolp Engler
(1844-1930), Charles E. Besseu (1845-1915), Richard Werrstein (1862-1831 M),
Alfred B. Rendle (1865-1939), Karl C. Mets (1866-1944), Hans Halliers (Johan
Gottfried Hallier) (1868-1932), August A. Pulle (1878), Carl Skottberg (1880),
dan John Hutchinson (1884-1972).
Sistem Klasifikasi Kontemporer
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang
pesat dalam abad ke-20 ini pasti akan berpengaruh pula terhadap perkembangan
ilmu taksonomi tumbuhan. Kecenderungan untuk mengkuantitatifkan data penelitian
dan penerapan matematika dalam pengolahan data yang diperoleh telah menyusup
pula ke dalam ilmu-ilmu sosial yang semula tak pernah atau belum memanfaatkan
matematika serta belum mempertimbangkan pula kemungkinan-kemungkinan yang dapat
di capai dengan penerapan pendekatan kuantitatif matematik.
Perkembangan teknologi, khususnya di bidang
elektronika yang dalam abad nuklir maju dengan pesat ini, telah pula menjamah
bidang taksonomi tumbuhan, yang sejak beberapa dasawarsa belakangan ini juga
sudah di jalari “penyakit” penerapan metode penelitian kuantitatif yang
pengelohan datanya memanfaatkan jasa-jasa komputer pula. Komputer telah
digunakan secara luas dalam pengembangan metode kuantitatif dalam klasifikasi
tumbuhan, yang melahirkan bidang baru dalam taksonomi tumbuhan yang dikenal
sebagai taksonomi numerik,taksometri atau taksonometri.
Pengolahan data secara elektronik
(EDP—Elektronic Data Processing), juga sudah diterapkan untuk berbagai prosedur
dalam penelitian taksonomi antara lain dalam penyimpanan dan pengambilan
laporan-laporan atau informasi.
Klasifikasi Makhluk Hidup Berdasarkan
Pembagian Kingdom
I. Sistem Klasifikasi 2 Kingdom
Aristoteles (400 SM – 1800an) membagi
makhluk hidup menjadi 2 dunia yaitu berdasarkan
1. Regnum Vegetabile (Kerajaan tumbuhan)
2. Regnum Animalia (Kerajaan hewan)
II. Sistem klasifikasi
3 Kingdom
E. HaeckeL (1866) mengusulkan sistem
klasifikasi makhluk hidup atas 3 dunia berdasarkan kenampakan morfologi
(mikroskopis) dan fisiologi, yaitu:
1.
Protista (Bersel tunggal)
2.
Animalia (Hewan)
3.
Plantae (Tumbuhan)
Pada tahun 1937 Chatton membagi makhluk hidup
dalam dua kelompok besar berdasarkan struktur organisasi internal sel :
a.
Prokariotik : tidak
memiliki organela
b.
Eukariotik : memiliki
organela
III. Sistem Empat
Kingdom
Copeland (1938) mencetuskan Sistem empat kingdom terdiri atas
kingdom yaitu :
-
Monera (Prokaryote,
organisme bersel satu tanpa inti sel) contoh : Bakteria
-
Fungi/Protista
(Eukaryote, organisme bersel satu dengan inti sel)
-
Plantae (Tumbuhan)
-
Animalia (Hewan)
Kingdom Fungi dipisahkan dari Plantae karena
tidak mempunyai klorofil walaupun sama-sama mempunyai dinding sel.
IV. Sistem 5 Kingdom
Robert H. Whittaker (1969)
mencetuskan sistem 5 dunia berdasarkan struktur organisasi internal sel, struktur organisasi sel dan
tipe nutrisi sel:
1. Monera
2. Protista
3. Fungi
4. Animalia
5. Plantae
V. Sistem 3 domain
Berkembangnya biologi molekular, Carl Woese (1978) membagi
makhluk menjadi 3 domain hasil dari analisis urutan RNA sub unit kecil.
Yaitu Bacteria, Archaea, dan Eukarya.
VI. Sistem klasifikasi
6 Kingdom
Carolt J. Bult et al. (1996)
menguji hipotesis C. Woose dengan
hasil yaitu kemiripan antara domainArkhae dan domain Bacteria hanya
≤ 50%. Selanjutnya, para pakar biologi sepakat telah menggunakan 3 domain dan 6
dunia, yaitu:
1.
Bacteria
2.
Archaea
3.
Fungi
4.
Protista
5.
Animalia
6.
Plantae
Kesimpulan
Berdasarkan dari pembahasan diatas dapat
disimpulkan bahwa klasifikasi makhluk hidup adalah ilmu yang
mempelajari proses pengaturan makhluk hidup dalam tingkat-tingkat kesatuan
kelasnya yang sesuai secara ideal. Ini dicapai dengan menyatukan
golongan-golongan yang sama dan memisahkan golongan-golongan yang
berbeda. Sistem penyusunan ini berasal dari kumpulan informasi makhluk
hidup secara individual yang menggambarkan kekerabatan.
Adapun tujuan klasifikasi makhluk hidup yaitu
untuk mengelompokkan makhluk hidup berdasarkan persamaan ciri-ciri yang
dimiliki, mengetahui ciri-ciri untuk mengetahui hubungan kekerabatan makhluk
hidup tersebut. Sistem klasifikasi makhluk hidup dapat dibedakan
menjadi 2, yaitu berdasarkan dari segi sifatnya dan dari segi pembagian
kingdomnya. Salah satu pembagiannya makhluk hidup dibagi kedalam 6 kingdom yaitu
Eubacteria, Archaebacteria, protista, fungi, plantae, dan animalia.
DAFTAR PUSTAKA
Ecrivain,
Misterluthfi. (2013). Perkembangan Sistem Klasifikasi Makhluk Hidup.
Diakses 11 Februari 2018
http://www.zonabiokita.web.id/2013/06/perkembangan-sistem-klasifikasi-makhluk.html
Tentorku.
(2015). Sejarah dan Definisi Taksonomi. Diakses 11 Februari 2018
http://www.tentorku.com/taksonomi-definisi-dan-sejarah-awal/
Hartono, Juni.
(2015). Klasifikasi 5 Kingdom, 6 Kingdom, 2 Kingdom, 3 Kingdom, 4
Kingdom (Klasifikasi Kingdom). Diakses 11 Februari 2018
http://www.biomagz.com/2015/11/klasifikasi-5-kingdom-6-kingdom-2.html
Ariani, Sri.
(2017), Sejarah Dan Perkembangan
Klasifikasi Secara Umum, Diakses 11 Februari 2018 http://arianisri.blogspot.co.id/2017/02/sejarah-dan-perkembangan-klasifikasi.html
Ryana, Dwi.
(2017), Sejarah Dan Perkembangan Klasifikasi Tumbuhan Secara
Umum, Diakses 11 Februari 2018
Tidak ada komentar:
Posting Komentar