Arsinah Sosok Yang
Membantu TKI di Perbatasan Kalimantan
Tak seperti biasanya
cuaca entikong beberapa hari ini kurang bersahabat tapi kondisi ini tak
menyurutkan niatku memenuhi panggilan hati, namaku Arsinah Sumitro 57 tahun
biasa disapa buk Arsinah, seperti inilah kegiatanku sehari hari mendampingi
para Tenaga Kerja Indonesia atau TKI yang bermasalah selama bekerja di
Malaysia. Hari ini ku mengantar Hadian pria asal Ngabang Kabupaten Landak, 10
tahun lamanya ia bekerja secara ilegal sebagai pekerja rumah tangga di Kucing
Sarawak, Malaysia. Dokumen perjalan yang seperti paspor, tak ia miliki
ketiadaan paspor membuatnya tidak bisa mendapatkan gaji selama bekerja. “saya
kan maklumlah orang kampung dari jauh kadang kadang enggak ada akta kelahiran, kadang kadang KTP udah enggak
ada, jadi saya memang kalau ada permasalahan yang sudah rumit tidak bisa
diselesaikan disana kita harus buat dokumen dan kita uruskan ke Indonesia dulu”
kata Bu Arsinah. 16 tahun aku perjuangkan hak hak buruh migran yang bekerja di
negeri Jiran, di perbatasan entikong di kabupaten sanggau kalimatan barat
sekitar 6 jam perjalan darat dari Pontianak, wilayah di utara kalimantan barat
ini hanya dibatasi dengan garis atau border yang berbatasan langsung dengan
malaysia, karena itu entikong kerap jadi jalur utama pengiriman para TKI ke
negara tetangga baik ilegal maupun legal kondisi disini juga masih
memperihatinkan pembangunan sarana dan prasarana di perbatasan belum rata.
Terbatas di perbatasan wilayahku jauh tertinggal di batas Indonesia tapi begitu
dekat dengan kesejahteraan di negara tetangga. Masih terngiang diingatan,
memori problema TKI bermasalah kerap terjadi disetiap tahunnya seakan tiada
henti, jumlah kedatangan TKI bermasalah di perbatasan entikong masih menempati
posisi tertinggi mencapai lebih dari 2000 kasus. Bagai dua sisi mata uang diluar
sana ku dengar kabar Pemerintah akan bertahap memulangkan dan menghentikan
pengiriman TKI keluar negeri disektor informal seperti pekerja rumah tangga,
namun disisi lain tak mudah menyadarkan para calon TKI, mereka tak ada pilihan
terpaksa berangkat keluar negeri karena tak banyak lahan pekerjaan yang
tersedia didalam negeri. “saya pernah diculik pada tahun 2003 dan dibuang
diperbatasan Malaysia dengan Brunei ndak takut saya karena apa? karena saya
membela yang benar saya tidak takut diperbatasan berapa kali ini masih ada
orang yang habis keluar dari penjara juga, saya disuruh diajar sama orang
malaysia saya bilang jangan sekali kali menghina warga Indonesia” Kata bu
Arsinah
Semoga menjadi contoh bagi generasi muda untuk selalu membela tanah air kita
BalasHapusDiharapkan semangat seperti ini dapat tumbuh di setiap individu.
BalasHapusSemoga kasus tersebut bisa menjadi contah untuk anak-anak muda zaman sekarang.
BalasHapus