Minggu, 01 Oktober 2017

Arsinah Sosok Yang Membantu TKI di Perbatasan Kalimantan







Arsinah Sosok Yang Membantu TKI di Perbatasan Kalimantan
 
Tak seperti biasanya cuaca entikong beberapa hari ini kurang bersahabat tapi kondisi ini tak menyurutkan niatku memenuhi panggilan hati, namaku Arsinah Sumitro 57 tahun biasa disapa buk Arsinah, seperti inilah kegiatanku sehari hari mendampingi para Tenaga Kerja Indonesia atau TKI yang bermasalah selama bekerja di Malaysia. Hari ini ku mengantar Hadian pria asal Ngabang Kabupaten Landak, 10 tahun lamanya ia bekerja secara ilegal sebagai pekerja rumah tangga di Kucing Sarawak, Malaysia. Dokumen perjalan yang seperti paspor, tak ia miliki ketiadaan paspor membuatnya tidak bisa mendapatkan gaji selama bekerja. “saya kan maklumlah orang kampung dari jauh kadang kadang enggak ada  akta kelahiran, kadang kadang KTP udah enggak ada, jadi saya memang kalau ada permasalahan yang sudah rumit tidak bisa diselesaikan disana kita harus buat dokumen dan kita uruskan ke Indonesia dulu” kata Bu Arsinah. 16 tahun aku perjuangkan hak hak buruh migran yang bekerja di negeri Jiran, di perbatasan entikong di kabupaten sanggau kalimatan barat sekitar 6 jam perjalan darat dari Pontianak, wilayah di utara kalimantan barat ini hanya dibatasi dengan garis atau border yang berbatasan langsung dengan malaysia, karena itu entikong kerap jadi jalur utama pengiriman para TKI ke negara tetangga baik ilegal maupun legal kondisi disini juga masih memperihatinkan pembangunan sarana dan prasarana di perbatasan belum rata. Terbatas di perbatasan wilayahku jauh tertinggal di batas Indonesia tapi begitu dekat dengan kesejahteraan di negara tetangga. Masih terngiang diingatan, memori problema TKI bermasalah kerap terjadi disetiap tahunnya seakan tiada henti, jumlah kedatangan TKI bermasalah di perbatasan entikong masih menempati posisi tertinggi mencapai lebih dari 2000 kasus. Bagai dua sisi mata uang diluar sana ku dengar kabar Pemerintah akan bertahap memulangkan dan menghentikan pengiriman TKI keluar negeri disektor informal seperti pekerja rumah tangga, namun disisi lain tak mudah menyadarkan para calon TKI, mereka tak ada pilihan terpaksa berangkat keluar negeri karena tak banyak lahan pekerjaan yang tersedia didalam negeri. “saya pernah diculik pada tahun 2003 dan dibuang diperbatasan Malaysia dengan Brunei ndak takut saya karena apa? karena saya membela yang benar saya tidak takut diperbatasan berapa kali ini masih ada orang yang habis keluar dari penjara juga, saya disuruh diajar sama orang malaysia saya bilang jangan sekali kali menghina warga Indonesia” Kata bu Arsinah

3 komentar:

  1. Semoga menjadi contoh bagi generasi muda untuk selalu membela tanah air kita

    BalasHapus
  2. Diharapkan semangat seperti ini dapat tumbuh di setiap individu.

    BalasHapus
  3. Semoga kasus tersebut bisa menjadi contah untuk anak-anak muda zaman sekarang.

    BalasHapus