Selasa, 13 Februari 2018

Manfaat Katalog : Dulu dan Kini



Manfaat Katalog : Dulu dan Kini

Oleh :

Putu Eka Rani (1712312008)

Progaram D3 Perpustakaan FISIP Universitas Udayana




Abstrak
Tujuan yang terdapat dalam penulisan makalah ini, adalah untuk memberikan informasi kepada para pembaca mengenai manafaat katalog dulu dan kini, di dalam makalah ini juga memberikan gambaran untuk mengetahui apa saja manfaat katalog di perpustakaan pada waktu dulu dan kini. dan untuk mengetahui contoh bentuk fisik katalog dari masa ke masa berfokus pada katalog yang telah di tetapkan, mengingat kegiatan katalogisasi adalah suatu hal yang sangat penting di perpustakaan

Kata kunci : manfaat katalog dulu dan kini

Latar belakang
Penggunaan katalog sangatlah banyak manfaatnya bagi pengguna. Katalog merupakan wakil dari bahan pustaka yang dimiliki oleh perpustakaan, maka katalog dapat memberikan informasi mengenai bahan pustaka tersebut. Katalog juga dapat mempercepat dan mempermudah kegiatan penelusuran informasi terhadap bahan pustaka. Selain katalog manual (kartu), katalog juga terdapat dalam bentuk on line (elektronik). Kedua jenis katalog ini mempunyai manfaatnya masing – masing. Katalog perpustakaan dari masa-kemasa telah mengalami inovasi. Inovasi terhadap katalog perpustakaan ditujukan untuk memberi kemudahan kepada pengguna perpustakaan dalam menemu-balikkan bahan pustaka yang diinginkannya dari perpustakaan. Tulisan ini mencoba akan menguraikan pengertian, fungsi dan bentuk fisik dari katalog perpustakaan. Diuraikan juga manfaat di katalog perpustakaan yang manual atau katalog dulu dengan katalog online atau katalog kini.

Pengertian
Katalog atau katalogus dalam pengertian umum adalah daftar nama-nama, tempat dan barang-barang. Katalog dalam pengertian  khusus yakni yang dikenal dalam dunia perpustakaan, adalah daftar  bahan pustaka /  koleksi yang dimiliki oleh satu atau beberapa perpustakaan yang  disusun menurut system tertentu. Bahan pustaka meliputi buku, terbitan berkala, slide, piringan hitam, pita kaset, microfilm, CD ROM dll.
Katalogisasi adalah proses pembuatan katalog. Secara luas kegiatan tersebut dapat dibagi kepada dua (2) macam yaitu katalogisasi deskriptif dan katalogisasi subyek. Katalogisasi deskriptif adalah kegiatan merekam dan mengidentifikasi data bibliografi, yakni data mengenai pengarang, judul, tempat terbit, penerbit, tahun terbit, edisi  dan data buku lainnya yang diperlukan. Katalogisasi subyek ialah proses menentukan tajuk subyek dan nomor klasifikasi. Dalam hal terkahir ini prosesnya disebut juga klasifikasi.
Agar bahan pustaka dapat didayagunakan secara efektif dan efisien, perlu adanya pengolahan  bahan pustaka ( proses kartalogisasi tersebut). Lebih-lebih dengan berkembangnya teknik produksi buku yang mengakibatkan koleksi buku berkembang menjadi besar, maka seamakin terasa perlunya katalog. Tanpa diadakan katalogisasi, mencari buku-buku yang diperlukan akan sulit.  Oleh karena itu pustakawan mencari sarana atau alat yang dapat memberikan gambaran  tentang suatu buku / bahan pustaka  dalam bentuk catatan serta mengatur buku-buku di rak untuk memudahkan menemukan kembali jika diperlukan. Alat itulah yang kemudian disebut katalog atau katalogus.
Untuk memudahkhan proses pertukaran informasi antar perpustakaan atau pusat-pusat informasi lainnya, perlu adanya keseragaman dalam katalogisasi. Maka kemudian pada tahun 1967 diterbitkanlah suatu peraturan / pedoman katalogisasi internasional, yaitu Anglo American Cataloging Rules (AACR2). Dan dalam konteks Indonesia, disusun pula Peraturan Katalogisasi Indonesia, yang diterbitkan oleh Perpustakaan Nasional.

Fungsi Katalog
Ada beberapa fungsi katalog  antara lain sebagai berikut :
1.  Sebagai wakil ringkas dari dokumen / bahan pustaka yang dimiliki oleh perpustakaan.
2.  Sebagai sarana untuk menemukan kembali buku yang terdapat dalam koleksi perpustakaan.
3.  Memberikan informasi tentang ada tidaknya suatu buku dalam koleksi perpustakaan.
4.  Membedakan suatu karya dari karya lainnya yang mempunyai ciri yang sama.
5. Memudahkan pemakai jasa perpustakaan menemukan informasi yang diinginkan  baik dengan pendekatan pengarang,  judul atau subjectnya.

Bentuk-bentuk Katalog

Berikut adalah beberapa bentuk fisik  katalog :
1.     Katalog berbentuk kartu
Katalog ini berukuran 7 X 12 cm. Bentuk inilah yang paling banyak digunakan perpustakaan.  Katalog-katalog yang berbentuk kartu  yang telah tersusun secara sistematis dalam  laci-laci katalog dapat menerima entri-entri baru tanpa merubah susunan yang ada.
2.     Katalog berbentuk lembaran-lembaran lepas
kemudian dibendel (dijilid) menjadi satu atau beberapa berkas setelah disusun menurut system tertentu, contoh : Katalog Perpustakaan Muslim Nasional.
3.     Katalog berbentuk tercetak
Setelah uraian-uraian katalog disusun menurut system tertentu, kemudian dicetak menjadi semacam bibliografi sebanyak yang diperlukan. Kelebihan bentuk ini  ialah  katalog dapat diperbanyak dan dibawa kemana-mana. Tetapi kelemahannya tidak dapat menerima entri-entri baru. Ini berarti entri baru harus disusun dan dicetak  sebagai suplemen.
4.     Katalog Elektronik
Bentuk katalog ini muncul berkat kemajuan di bidang teknologi informasi seperti komputer. Dalam hal ini katalog berada dalam suatu basis data di komputer, sehingga tidak perlu lagi diadakan penyusunan dengan sistematika tertentu seperti bentuk lainnya. Kelebihan katalog bentuk ini adalah lebih cepat dan mudah diakses, menghemat tenaga dan biaya dalam pembuatannya, dan entri-entri baru dapat dimasukkan setiap saat. Kelemahannya ialah jika listrik padam, maka tidak bisa dipergunakan.
Selanjutnya, dari katalog komputer ini kemudian bisa diformat dalam bentuk CD-ROM. Kelebihannya ia bisa dibawa kemana-mana, tetapi untuk mengaksesnya tetap saja diperlukan perangkat komputer.

Tujuan
a.     Memungkinkan seorang meemukan sebuah buku yang diketahui pengarangnya, judulnya atau subjeknya
b.    Menunjukan buku yang dimiliki perpustakaan oleh pengarang tertentu, berdasarkan subjek tertentu dan dalam jenis literature tertentu
c.     Membantu dalam pemilihan buku berdasarkan edisinya dan berdasakan karakternya (sastra ataukah berdasarkan topik)




Sejarah
Pada awalnya katalogisasi digunakan untuk daftar peralatan militer Amerika dan untuk kepentingan lainnya. Pada tahun 1929, pemerintahan Amerika Serikat mulai menggunakan katalogisasi berdasarkan keinginan masing-masing departemen. Pada tahun 1932, Presiden Roosevelt membuat katalogisasi seragam akan tetapi tidak semua departemen mengikuti penyeragaman katalog tersebut. Akibatnya, pengkatalogan peralatan militer menjadi kacau, kekacauan ini berimbas pada keuangan dan dapat membahayakan Negara.
Pada tanggal 03 juli 1947, Angkatan Laut dan Angkatan Darat Amerika Serikat menetapkan keseragaman katalogisasi. Hal ini diperkuat oleh adanya Undang-Undang tentang Katalogisasi dan standardisasi Pertahanan. Ketetapan ini dikikuti oleh Negara-negara kelompok NATO yang mulai menggunakan proses yang sangat sederhana. Namun, pada tahun 1965, katalogisasi berkembang dan telah menggunakan proses computer. Amerika Serikat telah meresmikan penggunaan NSN pada tahun 1975. Setelah Amerika Serikat meresmikan penggunaan NSN, banyak Megara di dunia yang telah mengukiti jejak Amerika Serikat untuk menggunakan NSN termasuk salah satunya adalah Indonesia.
Amerika Serikat menjadi Negara pertama berlangsungnya sejarah dan perkembangan katalogisasi. Meskipun pada awalnya menggunakan proses yang sangat sederhana,seiring dengan perkembangan zaman, katalogisasi menggunakan bentuk dan proses yang lebih canggih lagi, kecanggihan itupun semakin lama semakin mempermuda seseorang dalam mencari daftar apa yang diinginkan.
Dalam perjalanan sejarah yang cukup panjang, katalog perpustakaan telah mengalami perkembangan dan perubahan seiring dengan perkembangan teknologi informasi dan perubahan perilaku pencarian informasi para penggunanya atau bisa disebut denganinformation seeking behavior. Perubahan tersebut terjadi dari katalog yang pada awalnya berbentuk buku, kartu, hingga menjadi Online Public Access Catalog (OPAC). Hal ini menunjukkan bahwa sesungguhnya katalog perpustakaan dari waktu ke waktu dapat menyesuaikan diri dengan setiap perkembangan yang terjadi, terutama berkaitan dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Disamping itu, setiap perubahan atau inovasi yang terjadi pada katalog perpustakaan juga dimaksudkan untuk memberi kemudahan kepada pengguna dalam menggunakan atau mengaksesnya untuk menelusuri bahan pustaka yang dibutuhkan di perpustakaan.
Perkembangan teknologi komputer dan produksi dokumen elektronik menjadi tantangan bagi perpustakaan saat ini jika dibandingkan dengan tantangan yang dihadapi oleh perpustakaan lima puluh tahun yang lalu dimana saat itu yang menjadi inti koleksi perpustakaan hanyalah buku-buku dan majalah-majalah yang hanya dapat ditelusuri dengan menggunakan katalog kartu saja. Meskipun demikian pengaruh teknologi komputer dan jaringan informasi terhadap misi perpustakaan masih diperdebatkan tetapi eksistensi perpustakaan masa depan tergantung pada kemampuan perpustakaan dalam merespon teknologi saat ini dan yang akan datang. Salah satu respon penting yang harus dilakukan oleh perpustakaan adalah melakukan perubahan pada katalognya. Supaya pengguna lebih mudah mengakses informasi melalui katalog.
Seiring dengan perkembangan automasi perpustakaan Tedd (1994, 27-37) menguraikan secara kronologis bahwasanya perkembangan system OPAC dan automasi diperpustakaan sebagai berikut :
a.      Pada tahun 1960 komputer sudah digunakan di berbagai perpustakaan umum dan perguruan tinggi untuk membantu cara membuat katalog. Pada saat itu, pengoperasian sistem komputer masih berada pada mode atau cara yang sangat bervariasi atau bermacam-macam, sehingga kemungkinan untuk melakukan penelusuran informasi dengan katalog secara terpasang (online) dianggap masih jauh dari kenyataan. Pada awal tahun 1970, sejumlah perpustakaan mulai menggunakan sistem komputer induk untuk mengembangkan sistem lokal. Sistem lokal ini umumnya didesain dan dirancang oleh staf dari pusat komputer.
b.      Pertengahan tahun 1970 komputer mulai digunakan untuk proses pengawasan sirkulasi atau perubahan di perpustakaan. Sistem komputer digunakan untuk tujuan pengumpulan data, khususnya pencatatan peminjaman. Computer Output On Microfilm (COM) menjadi metode yang terkenal digunakan untuk menghasilkan katalog. Perkembangan pada masa ini, ditandai dengan munculnya sistem kerjasama     pengatalogan   dan pemanfaatan bersama, dari berbagai perpustakaan. Misalnya, di Inggris London and South Eastern Library Region (LASER), dan di Amerika Utara Ohio College Library Centre (OCLC). Sistem kerjasama ini menghasilkan cantuman katalog pada komputer untuk sejumlah perpustakaan yang berpartisipasi, baik dalam bentuk COM, maupun kartu katalog.
c.       Pada  akhir  tahun 1970 dan awal tahun1980, pengenalan komputer mikro ataumicrocomputer. Di era ini, berbagai perpustakaan semakin mandiri untuk menggunakan fasilitas komputer yang diperoleh dari perusahaan yang dilanggan. Kemandirian ini mengarah kepada pengembangan dan perancangan sistem sendiri atau disebut dengan in-house system. Penggunaan komputer mikro menjadi terkenal karena menyediakan fasilitas untuk melakukan akses secara terpasang atau online terhadap berbagai simpanan seperti file dalam  sistem sirkulasi. Perkembangan lain yang terjadi pada masa ini, ialah penyediaan paket perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (software) atau turnkey sistem untuk perpustakaan oleh beberapa perusahaan. Sistem tersebut menggabungkan sejumlah fasilitas, diantaranya fasilitas penelusuran dan sistem sirkulasi. Karena sistem komputer yang digunakan pada masa itu di perpustakaan mampu menelusur cantuman bibiliografi secara online, sehingga sistem itu disebut sebagai sistem OPAC. Munculnya sistem OPAC di sejumlah perpustakaan tertentu, merupakan perkembangan utama yang terjadi dalam automasi perpustakaan sampai awal tahun 1980
d.      Pertengahan sampai Akhir Tahun 1980-an, perpustakaan yang menggunakan sistem OPAC semakin meningkat. Pemasukan mulai menyediakan sistem yang terintegrasi (integrated system) untuk manajemen perpustakaan, mencakup modul atau sub-sistem yang berbeda, seperti pengatalogan, akuisisi, sirkulasi, pengawasan serial, layanan antar perpustakaan dan juga OPAC. Keuntungan sistem bagi kegiatan penelusuran ialah, sistem memperbolehkan pengguna mengakses modul OPAC untuk mengetahui status pinjam dari semua bahan pustaka yang ada di perpustakaan tertentu. Setiap pengguna yang sedang mengakses OPAC dimungkinkan bisa mengetahui status suatu bahan pustaka, apakah sedang tersedia atau sedang dipinjam, siapa peminjamnya, berapa lama dipinjam, kapan dikembalikan dan sebagainya. Hal ini dapat dilakukan, karena sistem menghubungkan  file katalog dengan file  sirkulasi. Sejumlah perpustakaan Perguruan tinggi dan perpustakaan umum telah menggunakan sistem manajemen perpustakaan yang terintegrasi, lengkap dengan modul OPAC. Sistem OPAC mulai dikembangkan berdasarkan kebutuhan pengguna
e.       Pada tahun 1990, sudah terlihat perubahan besar pada sistem manajemen perpustakaan dan dapat digunakan hingga sekarang.
Katalog dapat didefenisikan sebagai daftar barang yang berada pada suatu tempat. Dengan demikian katalog perpustakaan adalah daftar bahan pustaka yang ada dalam perpustakaan. Untuk mencapai kepada pemakai bahan pustaka dan apa yang dimiliki perpustakaan, disediakan katalog yang mencatat ciri masing-masing bahan pustaka yang diperlukan untuk mengindenfikasikannya dan membedakan satu bahan pustaka dari bahan pustaka yang lain. Untuk mencari kembali bahan pustaka tertentu dalam koleksi perpustakaan, katalog merupakan alat pencari yang terpenting. Akan sulit sekali, bahkan sangat mustahil, untuk menggunakan perpustakaan besar tanpa adanya katalog. Katalog perpustakaan dapat dikatakan  kunci untuk menemukan bahan pustaka dalam koleksi perpustakaan.
Ada 3 jenis pekerjaan yang diperlukan dalam proses pembuatan katalog,
1.      Pembuatan deskripsi fisik dari bahan pustaka itu
2.      Penentuan subyek yang dibahas dalam buku itu,
3.      Penyusunan kartu-kartu dalam katalog
Ada beberapa hal yang selalu perlu diperhatikan dalam menyusun katalog, yaitu :
1.      Katalog harus dibuat dengan cara yang seragam
2.      Syarat yang telah ditetapkan harus selaluditaati
3.      Ketelitian dalam setiap langkah pekerjaan harus diperhatikan

Pengertian Katalog Manual “dulu” dan Katalog On Line “kini”
    
      1)     Katalog Manual atau katalog dulu

Gates menyatakan bahwa, katalog perpustakaan adalah suatu daftar yang sistematis dari buku dan bahan-bahan lain dalam suatu perpustakaan, dengan informasi deskriptif mengenai pengarang, judul, penerbit, tahun terbit, bentuk fisik,subjek, ciri khas bahan dan tempatnya. Pendapat ini menjelaskan apa yang menjad ientri dari suatu katalog. Katalog memuat informasi deskriptif mengenai berbagai hal,seperti pengarang, judul, penerbit dan sebagainya. Dengan perkataan lain, pada suatu katalog dicacat sejumlah informasi bibliografis dari suatu dokumen atau bahan pustaka.Menurut Sulistyo Basuki, katalog manual terdiri dari tiga jenis yaitu katalog kartu, katalog buku, dan katalog berkas. Berikut adalah pengertian dari masing-masing katalog manual tersebut.Katalog kartu adalah bentuk katalog perpustakaan yang semua deskripsi bibliografinya dicatat pada kartu berukuran 7.5 x 12.5 cm. Katalog kartu disusun secara sistematis pada laci katalog. Katalog kartu masih banyak digunakan pada berbagai jenis perpustakaan di Indonesia hingga saat ini.Katalog buku adalah katalog tercetak atau katalog buku berbasis cetakan komputer. Pada katalog buku terdapat sejumlah entri yang tercetak pada setiap halaman. Dengan demikian katalog bentuk buku dapat dicetak sesuai dengan kebutuhan.Katalog berkas adalah kumpulan kertas atau kartu dalam bentuk selembar kertas berukuran 7.5 x 12.5 cm atau 10 x 15 cm. Masing-masing lembar berisi data katalog. Pada bagian kiri diberi lubang, kemudian diikat atau dijilid. Pada bagian depan dan belakang diberi karton tebal berfungsi sebagai pelindung. Setiap berkas dapat membuat antara 500 hingga 600 lembar. Berkas yang sudah terjilid kemudian disusun menurut nomor berkas.

      2)     Katalog on line atau katalog kini

Katalog komputer terpasang (online computer catalog) sering disebut dengan online public access catalogue (OPAC), adalah bentuk katalog terbaru yang telah digunakan pada sejumlah perpustakaan tertentu. OPAC cepat menjadi pilihan katalog yang digunakan di berbagai jenis perpustakaan. Dari berbagai bentuk fisik katalog yang telah digunakan di perpustakaan, ternyata OPAC dianggap paling luwes( flexible) dan paling mutakhir.

Istilah baku untuk online public access catalogue (OPAC) dalam bahasa Indonesia, hingga saat ini belum terumuskan dengan pasti. Ada perpustakaan yang menyebutnya dengan istilah katalog online atau katalog terpasang, dan ada juga yang tetap menyebutnya dengan OPAC. Selain itu, ada juga perpustakaan yangmenyebutnya dengan Katalog Akses Umum Talian, disingkat  KAUT.OPAC juga bisa diartikan sebagai suatu pangkalan data koleksi perpustakaan tertentu. OPAC menyediakan akses secara on line tentang koleksi perpustakaan melalui terminal komputer. Pengguna dapat melakukan penelusuran melalui pengarang, judul, subjek, kata kunci sebagaimana biasa dilakukan pada katalog normal. Melalui OPAC, pengguna dapat mengetahui judul, subjek, eksemplar, dan sebagainya dari koleksi suatu perpustakaan

Manfaat katalog dulu dan kini

Katalog dulu atau katalog manual
1.     Praktis, sehingga setiap kali penambahan buku baru diperpustakaan tidak akan menimbulkan masalah, karena entri baru dapat disisipkan pada jajaran kartu yang ada
2.     Tidak dipengaruhi faktor luar, misalnya terputusnya aliran listrik
3.     Kemungkinan rusak sangat kecil terkecuali jika perpustakaan terbakar.
4.     Dapat dicetak sesuai dengan kebutuhan
5.     Dapat diletakkan pada berbagai tempat
6.     Mudah disebarluasakan ke perpustakaan lain
7.     Entri pada katalog berbentuk buku dapat ditemukan dengan cepat
8.     Mudah menyimpannya
9.     Mudah menanganinya 



    Katalog kini atau katalog on line

1. Cantuman bibliografi pada OPAC dapat ditelusur dalam berbagai cara dan dapat ditampilkan pada berbagai     bentuk format tampilan, sedangkan pada katalog kartu hal itu tidak mungkin.
2. OPAC dapat memberi reaksi dan merespon pengguna dalam suatu cara yang cerdas.
3. Menghemat waktu. 
4. Dapat diakses melalui terminal pada tempat yang berbeda dari dalam atau dari luar gedung perpustakaan,       melalui local area networks (LAN) dan wide area networks (WAN).
5. Bantuan temu balik (retrieval aids).
6. Bantuan bahasa (linguistic aids).
7. Bantuan menjelajah (navigational aids).
8. Bantuan arti kata (semantic aids).

Kesimpulan

Penelusuran bahan pustaka menggunakan katalog online merupakan alat bantu penelusuran yang tepat, cepat dan efektif. Dengan katalog online pengguna perpustakaan mendapatkan beberapa manfaat antara lain :penelusuran informasi dapat dilakukan dengan cepat dan tepat, penelusuran dapat dilakukan dimana saja tidak harus datang ke perpustakaan,menghemat waktu dan tenaga,
pengguna dapat mengetahui keberadaan koleksi dan status koleksi apakah sedang dipinjam atau tidakpengguna mendapatkan peluang lebih banyak dalam menelusur bahan pustaka
dapat menemukan kembali bahan pustaka yang dibutuhkan.


Daftar Pustaka
Academia. Perbandingan tingkat penggunaan katalog manual dengan katalog on line. Diakses 13 februari 2018
Saputro, ramadhanni. (2017) Manfaat Katalog dulu dan kini, Diakses 13 februari 2018 
Perpustakaan, ilmu (2016) sejarah katalogisasi. Diakses 13 februari 2018

Minggu, 11 Februari 2018

Sejarah Dan Perkembangan Klasifikasi Secara Umum


Sejarah dan Perkembangan Klasifikasi Secara Umum
Oleh :
Putu Eka Rani (1712312008)
Progaram D3 Perpustakaan FISIP Universitas Udayana


Abstrak :
        Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui dan mendeskripsikan bagaimana proses sejarah dan perkembangan Klasifikasi secara umum. Secara umum Klasifikasi adalah suatu cara penyusunan atau pengelompokan sesuatu agar menjadi sistematis sedangkan Klasifikasi mahluk hidup adalah pengelompokan mahluk hidup berdasarkan persamaan dan perbedaan ciri yang dimilikinya. Ilmu yang mempelajari tentang klasifikasi mahluk hidup disebut dengan Taksonomi.  Tujuan klasifikasi adalah untuk memudahkan mengenali jenis-jenis makhluk hidup serta memudahkan untuk mengetahui nama –nama ilmiah dalam biologi. Perkembangan klasifikasi makhluk hidup secara garis besar dibagi menjadi dua yaitu berdasarkan dari segi sifatnya dan dari segi pembagian kingdomnya.

Kata kunci: Pengertian Klasifikasi, Tahap Klasifikasi, Sejarah dan Perkembangan Klasifikasi Makhluk Hidup

Latar Belakang :
            Arti Klasifikasi secara umum adalah sesuatu cara menyusun, penggolongan atau pengelompokan sesuatu agar menjadi sistematis. Selain yang diatas klasifikasi juga memiliki beberapa pengertian, yaitu :
a.     Secara etimologi, Klasifikasi berasal dari bahasa Inggris dari kata “classification” dan kata ini berasal dari kata “to classy” yang berarti menggolongkan dan menempatakan benda-benda di suatu tempat.
b.    Menurut Wikipedia, Klasifikasi merupakan kata serapan dari bahasa Belanda, classificatie, yang sendirinya berasal dari bahasa Prancis classification
c.     Klasifikasi merupakan penyusunan bersistem dalam kelompok atau golongan menurut kaidah atau standar yang ditetapkan (KBBI)
d.    Klasifikasi adalah kegiatan mengelompokkan dan menempatkan barang-barang (Ernest Cushing Richardson)
e.     Klasifikasi adalah pengelompokan benda secara logis menurut ciri-ciri kesamaannya (Harrolds Librarians Glossary)
 Klasifikasi Makhluk hidup merupakan proses pengaturan makhluk hidup dalam tingkat-tingkat kesatuan kelasnya yang sesuai secara ideal. Para ahli Biologi telah membuat cabang Biologi khusu mengenai klasifikasi yang disebut Taksonomi. Taksonomi merupakan ilmu tentanfg identifikasi tata nama dan klasifikasi makhluk hidup berdasarkan aturan tertentu. Klasifikasi makhluk hidup menggunakan dasar atau criteria tertentu, yaitu persamaan cirri atau sifat morfologi, fisiologi, dan anatomi yang terdapat pada makhluk hidup.
Sistem klasifikasi makhluk hidup terus berkembang sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya Taksonomi. Saat ini diketahui terdapat 3 (tiga) system klasifikasi makhluk hidup, yaitu Sistem Artifisial (Buatan), Sistem Alami, dan Sistem Filogenetik. Makhluk hidup  yang ada di bumi ini sangat banyak dan beraneka ragam. Bahkan di tiap daerah memiliki jenis makhluk hidup yang khas, yang tidak ditemukan di daerah lain. Adanya keanekaragaman makhluk  ini menjadi suatu masalah dalam mengenal dan mempelajarinya.
Klasifikasi  ini bertujuan untuk mempermudah pengenalan dan pembelajaran terhadap makhluk hidup serta mempermudah dalam mengkomunikasikannya kepada orang lain. Klasifikasi bertujuan untuk menyederhanakan objek studi yaitu mencari keanekaeragaman dalam keseragaman. Kesamaan – kesamaan atau keseragaman itulah yang nantinya akan menjadi dasar dalam pengklasifikasian jadi suatu takson atau suatu unit mempunyai sejumlah kesamaan - kesamaan sifat.

Definisi/ Pengertian Klasifikasi

Secara harafiah klasifikasi adalah suatu cara pengelompokan yang berdasarkan pada ciri-ciri tertentu. Semua ahli biologi menggunakan suatu sistem klasifikasi untuk mengelompokkan tumbuhan ataupun hewan yang memiliki persamaan struktur. Kemudian setiap kelompok tumbuhan ataupu hewan tersebut dipasang-pasangkan dengan kelompok tumbuhan atau hewan lainnya yang memiliki persamaan dalam kategori lain. Hal itu pertama kali diusulkan oleh John Ray yang berasal dari Inggris. Namun ide itu disempurnakan oleh Carl Von Linne (1707-1778), seorang ahli botani berkebangsaan Swedia yang dikenal pada masa sekarng dengan Carolus Linnaeus.
            Untuk mengenali dan mempelajari makhluk hidup secara keseluruhan tidak mudah oleh sebab itu dibuatlah klasifikasi sebagai pengelompokan makhluk hidup.

Tujuan Klasifikasi

a.     Mengelompokkan makhluk hidup berdasarkan persamaan ciri-ciri yang dimiliki
b.    Mengetahui ciri-ciri suatu jenis makhluk hidup untuk membedakannya dengan makhluk hidup dari jenis lain
c.     Mengetahui hubungan kekerabatan makhluk hidup

d.    Memberi nama makhluk hidup yang belum diketahui namanya atau belum memiliki nama serta Mempermudah mengenali mahluk hidup

e.    Membandingkan dan mempelajari makhluk hidup. Membandingkan berarti mencari persamaan dan perbedaan sifat atau ciri pada makhluk hidup.

Berdasarkan tujuan tersebut, sistem klasifikasi makhluk hidup memiliki manfaat seperti berikut:
 1. Memudahkan kita dalam mempelajari makhluk hidup yang sangat beraneka ragam.
 2. Mengetahui hubungan kekerabatan antara makhluk hidup satu dengan yang lain.


Tahap Klasifikasi
            Tahap Klasifikasi

Tahapan dalam klasifikasi mahluk hidup yang dilakukan oleh Linnaeus adalah sebagai berikut :
a.     Pencandraan atau identifikasi, yaitu proses mengidentifikasi atau mendeskripsikan ciri-ciri mahluk      hidup yang akan diklasifikasi.
b.    Pengelompokan, yaitu mengelompokkan mahluk hidup berdasarkan ciri-ciri yang dimilikinya. Mahluk hidup yang mempunyai ciri-ciri yang sama dikelompokkan dalam satu kelompok yang sama yang disebut dengan takson, dan ilmu yang mempelajarinya disebut taksonomi
c.     Pemberian nama (Bionium Nomenclature) takson. Mahluk hidup yang telah dikelompokkan tadi, selanjutnya diberi nama untuk mempermudah kita mengenal ciri-ciri suatu kelompok mahluk hidup tertentu.






Sejarah dan Perkembangan Klasifikasi

           
Masa sejarah dan perkembangan Klasifikasi Makhluk Hidup dibagi menjadi beberapa sistem berdasarkan cara pemilihan sifat dalam penyusunan klasifikasi, adapun pembagian tersebut antara lain :

Klasifikasi Sistem Manfaat/ Periode tertua
Dalam periode ini secara formal belum dikenal adanya system klasifikasi yang diakui (sejak ada kegiatan dalam taksonomi sampai kira-kira abad ke-4 sebelum masehi). Sejak awal kehidupan manusia bergantung pada bahan-bahan yang berasal dari tumbuhan, manusia sejak dahulu telah melakukan kegiatan-kegiatan yang termasuk dalam lingkup taksonomi, seperti mengenali dan memilah-milah tumbuhan mana yang berguna baginya dan yang mana yang tidak, termasuk pemberian nama, sehingga apa yang ditemukan dapat dikomunikasikan kapada pihak lain.
Dalam zaman prasejarah orang telah mengenal tumbuh-tumbuhan penghasil bahan pangan yang penting seperti yang kita kenal sampai saat ini. Jenis-jenis tumbuhan ini diperkirakan telah diperkenal sejak 7 sampai 10 ribu tahun yang telah lalu, telah dibudidayakan oleh bangsa Mesir, China, Asiria dan Tigris Di Timur Tengah serta bangsa-bangsa Indian di Amerika Utara dan Selatan, sejak beberapa ribu tahun yang lalu telah dikenal berbagai jenis tumbuhan yang merupakan penghasil bahan pangan, sandang, dan bahan obat yang berarti bahwa sebenarnya merekapun telah menerapkan suatu sistem klasifikasi, dalam hal ini suatu system klasifikasi yang didasarkan atas manfaat tumbuhan, sehingga tidak dapat dianggap sebagai system buatan yang tertua.
Jelaslah bahwa sejak berpuluh – puluh abad yang lalu orang telah terjun dalam kegiatan – kegiatan taksonomi tumbuhan, walaupun pengetahuan yang telah mereka kumpulkan belum begitu berarti, juga belum ditata, belum menunjukan hubungan sebab dan akibat, sehingga belum dapat disebut sebagai ilmu pengetahuan (science) menurut ukuran sekarang.
Sekalipun tidak ada bukti-bukti konkrit yang berwujud peninggalan-peninggalan yang berupa dokumen-dokumen atau bentuk karya tulis lainnya, tidak perlu diragukan lagi bahwa sesuai dengan pernyataan Bloembergen, permulaan taksonomi tumbuhan harus digali dari kedalaman sejarah peradaban manusia di bumi ini.


Periode system Habitus/ Bentuk
Taksonomi tumbuhan sebagai ilmu pengetahuan baru di anggap pada abad ke-4 sebelum Masehi oleh orang-orang Yunani yang dipelopori oleh Theophrastes (370-285 SM) seorang murid dari filsuf Yunani bernama Aristoteles. Aristoteles sendiri adalah murid filsuf Yunani yang semashur yaitu plato. Aristoteles adalah filusuf Yunani (384-422) adalah orang yang pertama merintismengadakan klasifikasi hewanberdasarkan ciri-cirinya. Dia berhasil mengelompokan seribu jenis hewan tang dikenalnya. Oleh sebab itu, dia dijuluki bapa zoologi. Sistem klasifikasi yang diusulkan bangsa Yunani dengan Theophrastes sebagai pelopornya juga diikuti oleh kaum herbalis serta ahli-ahli botani dan nama itu terus dipakai sampai selama lebih 10 abad.
Pengklasifikasian tumbuhan terutama didasarkan atas perawakan (habitus) yang golongan-golongan utamanya disebut dengan nama pohon, perdu, semak, tumbuhan memanjat, dan terna. System klasifikasi ini bersifat dominan dari kira-kira abad ke-4 sebelum masehi sampai melewati abad pertengahan, dan selama periode-periode ini ahli-ahli botani, herbalis, dan filsuf telah menciptakan sistem-sistem klasifikasi yang pada umumnya masih bersifat kasar, namun sering dinyatakan telah mencerminkan adanya hubungan kekerabatan antara golongan yang terbentuk.
Theophrastes sendiri yang dianggap sebagai bapaknya ilmu tumbuhan, dalam karyanya yang berjudul Historia Plantarum telah memperkenalkandan memberikan deskripsinya untuk sekitar 480 jenis tumbuhan. Dalam karya ini system klasifikasi yang diterapkan oleh Theoprastes telah mencerminkan falsafah guru dan eyang gurunya ( Aristoteles dan Plato), yaitu suatu suatu system klasifikasi tumbuhan berdasarkan bentuk dan tekstur. Selain golongan-golongan pohon, perdu, semak seperti yang disebut di atas, ia juga mengadakan pengelompokan menurut umur dan membedakan tumbuhan berumur pendek (annual), tumbuhan berumur 2 tahun (biennial), serta tumbuhan berumur panjang (perennial)


Periode Sistem Buatan/ Artificial
Klasifikasi sistem buatan diperkenalkan oleh Carl von Linne (1707-1778), ahli ilmu pengetahuan alam swedia yang namanya dilatinkan menjadi Carolus Linnaeus. Sistem yang telah disusun yaitu sistem klasifikasi buatan. Maksudnya, kategori organisme didasarkan pada sejumlah kecil sifat-sifat morfologi tanpa memandang kesamaan struktur yang mungin memperlihatkan kekerabatan. Klasifikasi sistem buatan ini antara lain mengelompokkan tumbuhan atas atas dasar bunga, masa bunga, bentuk bunga, bentuk daun, jumlah benang sari, putik dan lain-lain. Sistem klasifikasi buatan menggunakan sistem nomenklatur.
            Sistem klasifikasi tumbuhan yang diciptakan oleh Linnaeus masih dikategorikan sebagai sistem artivisial. Nama Sistema Sexsuale untuk sistem yang diciptakan sebenarnya tidak begitu tepat, karena pada dasarnya sistem ini tidak ditekankan pada masalah jenis kelamin, tetapi pada kesamaan jumlah alat-alat kelamin seperti jumlah benang sari. Nama-nama golongan tumbuhan yang diciptakan oleh linnaeus seperti monandria (berbenang sari tunggal), diandria (berbenang sari dua), triandria (berbenang sari tiga) dan seterusnya.
Itulah sebabnya sistem klasifikasi tumbuhan ciptaan Linnaeus dikenal pula sebagai sistem numerik.
            Ciptaan Linnaeus ini merupakan sistem yang dinilai revolusioner untuk masa itu, dan memberikan pengaruh yang lebih besar dari pada sumbangan linnaeus yang lain, dan sistem ini sengaja dirancang sebagai alat bantu dalam mengidentifikasi tumbuhan dan ia juga dianggap sebagai pencipta sistem tatanama ganda yang diterapkan dalam bukunya Species plantarum yang diterbitkan pada tanggal 1 mei 1753 yang menjadi pangkal tolak berlakunya tatanama tumbuhan yang diakui.
            Sesungguhnya linnaeus dianggap tidak tepat bila ia sebagai pencipta tatanama ganda. Sebelim linnaeus, sistem tatanama ganda telah dirintis oleh caspar bauhin, yang dalam tahun 1623 dalam bukunya pinax theatri botanici telah menerapkan sistem tatanama ganda pada tumbuhan. Karena besar jasa-jasa yang diberikan oleh linnaeus bagi perkembangan taksonomi pada umumnya dan taksonomi tumbuhan khususnya bagi dunia ilmu hayat linnaeus mendapatkan gelar sebagai “bapak taksonomi” baik hewan maupun tumbuhan dan juga mendapat pengakuan dari negara yang diberikan oleh raja swedia yang mengangkat linnaeus ke jenjang bangsawan, sehingga nama karl linne diubah menjadi karl von linne. Linneaus juga berperan penting dalam taksonomi tumbuhan yang membangkitkan minat dan semangat siswa yang kemudian beberapa diantaranya menjadi tokoh seperti gurunya. Diantaranya adalah Peter Kalm (1716-1779), F. Hasselquist (1722-1752), P Forskal (1731-1760), C.P. Thunberg (1743—1828), J. A. Murray (1740-1791), J. Roener (1763-1819), C. L. Wildenow (1765-1812), dan J. Schultes (1773-1831).

Periode Sistem Alamiah
Menjelang berakhirnya abad ke-18 terjadi perubahan-perubahan yang revolusioner dalam pengklasifikasiaan tumbuhan. Sistem klasifikasi yang baru ini disebut “sistem alam” yaitu golongan yang terbentuk merupakan unit-unit ynag wajar (natural) bila terdiri dari anggota-anggota itu,dan dengan demikian dapat tercermin pengertian manusia mengenai yang disebut yang dikehendaki oleh alam. Secara harfiah istilah “sistem alam” untuk aliran baru dalam klasifikasi ini tidak begitu tepat karena pada hakekatnya semua sistem klasifikasi adalah sistem buatan. Untuk sitem klasifikasi yang digunakan dalam periode ini, digunakan nama “sistem alam” (natural system) dengan maksud untuk memenuhi keinginan manusia akan adanya penataan yang tepat yang lebih baik dari sistem-sistem sebelumnya.

Periode Sistem Filogenetik
Teori evolusi, teori desendensd atau teori keturunan seperti yang diciptakan oleh darwin merupakan suatru teori hingga sekarang oleh sebagian orang terutama tokoh agama masih dianggap kontroversial dan tetap ditentang kendati ajaran itu tetap diterima dan cepat tersebar luas dikalangan kaum ilmuan yang begitu fanatik terhadap teori ini sampai ada yang menyatakan, bahwa “ evolusi bukannya teori lagi, tetapi adalah suatu aksioma yang tidak perlu diragukan kebenarannya, dan oleh karenanya tidak perlu diperdebatkan lagi “.
Sistem klasifikasi dalam periode ini berupaya untuk mengadakan penggolongan tumbuhan yang sekaligus mencerminkan urutan – urutan golongan itu dalam sejarah perkembangan filogenetiknya dan demikian juga menunjukan jauh dekatnya hubungan kekerabatan yang satu dengan yang lain. Jadi dalam klasifikasi ini dasar yang digunakan adalah “filogeni” dan dari sini lahirlah nama “sistem filogenetik” kenyataanya, bahwa kemudian muncul sistem klasifikasi yang berbeda, membuktikan bahwa persepsi dan interpretasi para ahli biologi mengenai yang disebut filogeni itu masih berbeda – beda.
Diantaranya tokoh-tokoh ahli taksonomi dimasa ini adalah Alexander Braun (1805-1877), A. W. Eichler (1839-1887), Adolp Engler (1844-1930), Charles E. Besseu (1845-1915), Richard Werrstein (1862-1831 M), Alfred B. Rendle (1865-1939), Karl C. Mets (1866-1944), Hans Halliers (Johan Gottfried Hallier) (1868-1932), August A. Pulle (1878), Carl Skottberg (1880), dan John Hutchinson (1884-1972).

Sistem Klasifikasi Kontemporer
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat dalam abad ke-20 ini pasti akan berpengaruh pula terhadap perkembangan ilmu taksonomi tumbuhan. Kecenderungan untuk mengkuantitatifkan data penelitian dan penerapan matematika dalam pengolahan data yang diperoleh telah menyusup pula ke dalam ilmu-ilmu sosial yang semula tak pernah atau belum memanfaatkan matematika serta belum mempertimbangkan pula kemungkinan-kemungkinan yang dapat di capai dengan penerapan pendekatan kuantitatif matematik.
Perkembangan teknologi, khususnya di bidang elektronika yang dalam abad nuklir maju dengan pesat ini, telah pula menjamah bidang taksonomi tumbuhan, yang sejak beberapa dasawarsa belakangan ini juga sudah di jalari “penyakit” penerapan metode penelitian kuantitatif yang pengelohan datanya memanfaatkan jasa-jasa komputer pula. Komputer telah digunakan secara luas dalam pengembangan metode kuantitatif dalam klasifikasi tumbuhan, yang melahirkan bidang baru dalam taksonomi tumbuhan yang dikenal sebagai taksonomi numerik,taksometri atau taksonometri.
Pengolahan data secara elektronik (EDP—Elektronic Data Processing), juga sudah diterapkan untuk berbagai prosedur dalam penelitian taksonomi antara lain dalam penyimpanan dan pengambilan laporan-laporan atau informasi.


Klasifikasi Makhluk Hidup Berdasarkan Pembagian Kingdom
 I. Sistem Klasifikasi 2 Kingdom
Aristoteles (400 SM – 1800an) membagi makhluk hidup menjadi 2 dunia yaitu berdasarkan
1.     Regnum Vegetabile (Kerajaan tumbuhan)
2.     Regnum Animalia (Kerajaan hewan)

II. Sistem klasifikasi 3 Kingdom
E. HaeckeL (1866) mengusulkan sistem klasifikasi makhluk hidup atas 3 dunia berdasarkan kenampakan morfologi (mikroskopis) dan fisiologi, yaitu:
1.     Protista (Bersel tunggal)
2.     Animalia (Hewan) 
3.     Plantae (Tumbuhan)   
Pada tahun 1937 Chatton membagi makhluk hidup dalam dua kelompok besar berdasarkan struktur organisasi internal sel :
a.     Prokariotik : tidak memiliki organela
b.    Eukariotik : memiliki organela

III. Sistem Empat Kingdom
Copeland (1938) mencetuskan Sistem empat kingdom terdiri atas kingdom yaitu :
-   Monera (Prokaryote, organisme bersel satu tanpa inti sel) contoh : Bakteria
-   Fungi/Protista (Eukaryote, organisme bersel satu dengan inti sel)
-   Plantae (Tumbuhan)
-   Animalia (Hewan)
Kingdom Fungi dipisahkan dari Plantae karena tidak mempunyai klorofil walaupun sama-sama mempunyai dinding sel.

IV.         Sistem 5 Kingdom
  Robert H. Whittaker (1969) mencetuskan sistem 5 dunia berdasarkan struktur organisasinternal sel, struktur organisasi sel dan tipe nutrisi sel:
1.     Monera
2.     Protista
3.     Fungi
4.     Animalia
5.     Plantae

V. Sistem 3 domain
Berkembangnya biologi molekular, Carl Woese (1978) membagi makhluk menjadi 3 domain hasil dari analisis urutan RNA sub unit kecil. Yaitu Bacteria, Archaea, dan Eukarya.

VI. Sistem klasifikasi 6 Kingdom
Carolt J. Bult et al. (1996) menguji hipotesis C. Woose dengan hasil yaitu kemiripan antara domainArkhae dan domain Bacteria hanya ≤ 50%. Selanjutnya, para pakar biologi sepakat telah menggunakan 3 domain dan 6 dunia, yaitu:
1.            Bacteria
2.            Archaea
3.            Fungi
4.            Protista
5.            Animalia
6.            Plantae

Kesimpulan

Berdasarkan dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa klasifikasi  makhluk hidup adalah ilmu yang mempelajari proses pengaturan makhluk hidup dalam tingkat-tingkat kesatuan kelasnya yang sesuai secara ideal. Ini dicapai dengan menyatukan golongan-golongan yang sama dan memisahkan golongan-golongan yang berbeda. Sistem penyusunan ini berasal dari kumpulan informasi makhluk hidup secara individual yang menggambarkan kekerabatan.
Adapun tujuan klasifikasi makhluk hidup yaitu untuk mengelompokkan makhluk hidup berdasarkan persamaan ciri-ciri yang dimiliki, mengetahui ciri-ciri untuk mengetahui hubungan kekerabatan makhluk hidup tersebut. Sistem klasifikasi makhluk hidup dapat dibedakan menjadi 2, yaitu berdasarkan dari segi sifatnya dan dari segi pembagian kingdomnya. Salah satu pembagiannya makhluk hidup dibagi kedalam 6 kingdom yaitu Eubacteria, Archaebacteria, protista, fungi, plantae, dan animalia.




DAFTAR PUSTAKA
Ecrivain, Misterluthfi. (2013). Perkembangan Sistem Klasifikasi Makhluk Hidup. Diakses 11 Februari 2018
            http://www.zonabiokita.web.id/2013/06/perkembangan-sistem-klasifikasi-makhluk.html
Tentorku. (2015). Sejarah dan Definisi Taksonomi. Diakses 11 Februari 2018
            http://www.tentorku.com/taksonomi-definisi-dan-sejarah-awal/
Hartono, Juni. (2015). Klasifikasi 5 Kingdom, 6 Kingdom, 2 Kingdom, 3 Kingdom, 4 Kingdom (Klasifikasi Kingdom). Diakses 11 Februari 2018
            http://www.biomagz.com/2015/11/klasifikasi-5-kingdom-6-kingdom-2.html
Ariani, Sri. (2017), Sejarah Dan Perkembangan Klasifikasi Secara Umum, Diakses 11 Februari 2018 http://arianisri.blogspot.co.id/2017/02/sejarah-dan-perkembangan-klasifikasi.html
Ryana, Dwi. (2017), Sejarah Dan  Perkembangan Klasifikasi Tumbuhan Secara Umum, Diakses 11 Februari 2018