Selasa, 13 Februari 2018

Manfaat Katalog : Dulu dan Kini



Manfaat Katalog : Dulu dan Kini

Oleh :

Putu Eka Rani (1712312008)

Progaram D3 Perpustakaan FISIP Universitas Udayana




Abstrak
Tujuan yang terdapat dalam penulisan makalah ini, adalah untuk memberikan informasi kepada para pembaca mengenai manafaat katalog dulu dan kini, di dalam makalah ini juga memberikan gambaran untuk mengetahui apa saja manfaat katalog di perpustakaan pada waktu dulu dan kini. dan untuk mengetahui contoh bentuk fisik katalog dari masa ke masa berfokus pada katalog yang telah di tetapkan, mengingat kegiatan katalogisasi adalah suatu hal yang sangat penting di perpustakaan

Kata kunci : manfaat katalog dulu dan kini

Latar belakang
Penggunaan katalog sangatlah banyak manfaatnya bagi pengguna. Katalog merupakan wakil dari bahan pustaka yang dimiliki oleh perpustakaan, maka katalog dapat memberikan informasi mengenai bahan pustaka tersebut. Katalog juga dapat mempercepat dan mempermudah kegiatan penelusuran informasi terhadap bahan pustaka. Selain katalog manual (kartu), katalog juga terdapat dalam bentuk on line (elektronik). Kedua jenis katalog ini mempunyai manfaatnya masing – masing. Katalog perpustakaan dari masa-kemasa telah mengalami inovasi. Inovasi terhadap katalog perpustakaan ditujukan untuk memberi kemudahan kepada pengguna perpustakaan dalam menemu-balikkan bahan pustaka yang diinginkannya dari perpustakaan. Tulisan ini mencoba akan menguraikan pengertian, fungsi dan bentuk fisik dari katalog perpustakaan. Diuraikan juga manfaat di katalog perpustakaan yang manual atau katalog dulu dengan katalog online atau katalog kini.

Pengertian
Katalog atau katalogus dalam pengertian umum adalah daftar nama-nama, tempat dan barang-barang. Katalog dalam pengertian  khusus yakni yang dikenal dalam dunia perpustakaan, adalah daftar  bahan pustaka /  koleksi yang dimiliki oleh satu atau beberapa perpustakaan yang  disusun menurut system tertentu. Bahan pustaka meliputi buku, terbitan berkala, slide, piringan hitam, pita kaset, microfilm, CD ROM dll.
Katalogisasi adalah proses pembuatan katalog. Secara luas kegiatan tersebut dapat dibagi kepada dua (2) macam yaitu katalogisasi deskriptif dan katalogisasi subyek. Katalogisasi deskriptif adalah kegiatan merekam dan mengidentifikasi data bibliografi, yakni data mengenai pengarang, judul, tempat terbit, penerbit, tahun terbit, edisi  dan data buku lainnya yang diperlukan. Katalogisasi subyek ialah proses menentukan tajuk subyek dan nomor klasifikasi. Dalam hal terkahir ini prosesnya disebut juga klasifikasi.
Agar bahan pustaka dapat didayagunakan secara efektif dan efisien, perlu adanya pengolahan  bahan pustaka ( proses kartalogisasi tersebut). Lebih-lebih dengan berkembangnya teknik produksi buku yang mengakibatkan koleksi buku berkembang menjadi besar, maka seamakin terasa perlunya katalog. Tanpa diadakan katalogisasi, mencari buku-buku yang diperlukan akan sulit.  Oleh karena itu pustakawan mencari sarana atau alat yang dapat memberikan gambaran  tentang suatu buku / bahan pustaka  dalam bentuk catatan serta mengatur buku-buku di rak untuk memudahkan menemukan kembali jika diperlukan. Alat itulah yang kemudian disebut katalog atau katalogus.
Untuk memudahkhan proses pertukaran informasi antar perpustakaan atau pusat-pusat informasi lainnya, perlu adanya keseragaman dalam katalogisasi. Maka kemudian pada tahun 1967 diterbitkanlah suatu peraturan / pedoman katalogisasi internasional, yaitu Anglo American Cataloging Rules (AACR2). Dan dalam konteks Indonesia, disusun pula Peraturan Katalogisasi Indonesia, yang diterbitkan oleh Perpustakaan Nasional.

Fungsi Katalog
Ada beberapa fungsi katalog  antara lain sebagai berikut :
1.  Sebagai wakil ringkas dari dokumen / bahan pustaka yang dimiliki oleh perpustakaan.
2.  Sebagai sarana untuk menemukan kembali buku yang terdapat dalam koleksi perpustakaan.
3.  Memberikan informasi tentang ada tidaknya suatu buku dalam koleksi perpustakaan.
4.  Membedakan suatu karya dari karya lainnya yang mempunyai ciri yang sama.
5. Memudahkan pemakai jasa perpustakaan menemukan informasi yang diinginkan  baik dengan pendekatan pengarang,  judul atau subjectnya.

Bentuk-bentuk Katalog

Berikut adalah beberapa bentuk fisik  katalog :
1.     Katalog berbentuk kartu
Katalog ini berukuran 7 X 12 cm. Bentuk inilah yang paling banyak digunakan perpustakaan.  Katalog-katalog yang berbentuk kartu  yang telah tersusun secara sistematis dalam  laci-laci katalog dapat menerima entri-entri baru tanpa merubah susunan yang ada.
2.     Katalog berbentuk lembaran-lembaran lepas
kemudian dibendel (dijilid) menjadi satu atau beberapa berkas setelah disusun menurut system tertentu, contoh : Katalog Perpustakaan Muslim Nasional.
3.     Katalog berbentuk tercetak
Setelah uraian-uraian katalog disusun menurut system tertentu, kemudian dicetak menjadi semacam bibliografi sebanyak yang diperlukan. Kelebihan bentuk ini  ialah  katalog dapat diperbanyak dan dibawa kemana-mana. Tetapi kelemahannya tidak dapat menerima entri-entri baru. Ini berarti entri baru harus disusun dan dicetak  sebagai suplemen.
4.     Katalog Elektronik
Bentuk katalog ini muncul berkat kemajuan di bidang teknologi informasi seperti komputer. Dalam hal ini katalog berada dalam suatu basis data di komputer, sehingga tidak perlu lagi diadakan penyusunan dengan sistematika tertentu seperti bentuk lainnya. Kelebihan katalog bentuk ini adalah lebih cepat dan mudah diakses, menghemat tenaga dan biaya dalam pembuatannya, dan entri-entri baru dapat dimasukkan setiap saat. Kelemahannya ialah jika listrik padam, maka tidak bisa dipergunakan.
Selanjutnya, dari katalog komputer ini kemudian bisa diformat dalam bentuk CD-ROM. Kelebihannya ia bisa dibawa kemana-mana, tetapi untuk mengaksesnya tetap saja diperlukan perangkat komputer.

Tujuan
a.     Memungkinkan seorang meemukan sebuah buku yang diketahui pengarangnya, judulnya atau subjeknya
b.    Menunjukan buku yang dimiliki perpustakaan oleh pengarang tertentu, berdasarkan subjek tertentu dan dalam jenis literature tertentu
c.     Membantu dalam pemilihan buku berdasarkan edisinya dan berdasakan karakternya (sastra ataukah berdasarkan topik)




Sejarah
Pada awalnya katalogisasi digunakan untuk daftar peralatan militer Amerika dan untuk kepentingan lainnya. Pada tahun 1929, pemerintahan Amerika Serikat mulai menggunakan katalogisasi berdasarkan keinginan masing-masing departemen. Pada tahun 1932, Presiden Roosevelt membuat katalogisasi seragam akan tetapi tidak semua departemen mengikuti penyeragaman katalog tersebut. Akibatnya, pengkatalogan peralatan militer menjadi kacau, kekacauan ini berimbas pada keuangan dan dapat membahayakan Negara.
Pada tanggal 03 juli 1947, Angkatan Laut dan Angkatan Darat Amerika Serikat menetapkan keseragaman katalogisasi. Hal ini diperkuat oleh adanya Undang-Undang tentang Katalogisasi dan standardisasi Pertahanan. Ketetapan ini dikikuti oleh Negara-negara kelompok NATO yang mulai menggunakan proses yang sangat sederhana. Namun, pada tahun 1965, katalogisasi berkembang dan telah menggunakan proses computer. Amerika Serikat telah meresmikan penggunaan NSN pada tahun 1975. Setelah Amerika Serikat meresmikan penggunaan NSN, banyak Megara di dunia yang telah mengukiti jejak Amerika Serikat untuk menggunakan NSN termasuk salah satunya adalah Indonesia.
Amerika Serikat menjadi Negara pertama berlangsungnya sejarah dan perkembangan katalogisasi. Meskipun pada awalnya menggunakan proses yang sangat sederhana,seiring dengan perkembangan zaman, katalogisasi menggunakan bentuk dan proses yang lebih canggih lagi, kecanggihan itupun semakin lama semakin mempermuda seseorang dalam mencari daftar apa yang diinginkan.
Dalam perjalanan sejarah yang cukup panjang, katalog perpustakaan telah mengalami perkembangan dan perubahan seiring dengan perkembangan teknologi informasi dan perubahan perilaku pencarian informasi para penggunanya atau bisa disebut denganinformation seeking behavior. Perubahan tersebut terjadi dari katalog yang pada awalnya berbentuk buku, kartu, hingga menjadi Online Public Access Catalog (OPAC). Hal ini menunjukkan bahwa sesungguhnya katalog perpustakaan dari waktu ke waktu dapat menyesuaikan diri dengan setiap perkembangan yang terjadi, terutama berkaitan dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Disamping itu, setiap perubahan atau inovasi yang terjadi pada katalog perpustakaan juga dimaksudkan untuk memberi kemudahan kepada pengguna dalam menggunakan atau mengaksesnya untuk menelusuri bahan pustaka yang dibutuhkan di perpustakaan.
Perkembangan teknologi komputer dan produksi dokumen elektronik menjadi tantangan bagi perpustakaan saat ini jika dibandingkan dengan tantangan yang dihadapi oleh perpustakaan lima puluh tahun yang lalu dimana saat itu yang menjadi inti koleksi perpustakaan hanyalah buku-buku dan majalah-majalah yang hanya dapat ditelusuri dengan menggunakan katalog kartu saja. Meskipun demikian pengaruh teknologi komputer dan jaringan informasi terhadap misi perpustakaan masih diperdebatkan tetapi eksistensi perpustakaan masa depan tergantung pada kemampuan perpustakaan dalam merespon teknologi saat ini dan yang akan datang. Salah satu respon penting yang harus dilakukan oleh perpustakaan adalah melakukan perubahan pada katalognya. Supaya pengguna lebih mudah mengakses informasi melalui katalog.
Seiring dengan perkembangan automasi perpustakaan Tedd (1994, 27-37) menguraikan secara kronologis bahwasanya perkembangan system OPAC dan automasi diperpustakaan sebagai berikut :
a.      Pada tahun 1960 komputer sudah digunakan di berbagai perpustakaan umum dan perguruan tinggi untuk membantu cara membuat katalog. Pada saat itu, pengoperasian sistem komputer masih berada pada mode atau cara yang sangat bervariasi atau bermacam-macam, sehingga kemungkinan untuk melakukan penelusuran informasi dengan katalog secara terpasang (online) dianggap masih jauh dari kenyataan. Pada awal tahun 1970, sejumlah perpustakaan mulai menggunakan sistem komputer induk untuk mengembangkan sistem lokal. Sistem lokal ini umumnya didesain dan dirancang oleh staf dari pusat komputer.
b.      Pertengahan tahun 1970 komputer mulai digunakan untuk proses pengawasan sirkulasi atau perubahan di perpustakaan. Sistem komputer digunakan untuk tujuan pengumpulan data, khususnya pencatatan peminjaman. Computer Output On Microfilm (COM) menjadi metode yang terkenal digunakan untuk menghasilkan katalog. Perkembangan pada masa ini, ditandai dengan munculnya sistem kerjasama     pengatalogan   dan pemanfaatan bersama, dari berbagai perpustakaan. Misalnya, di Inggris London and South Eastern Library Region (LASER), dan di Amerika Utara Ohio College Library Centre (OCLC). Sistem kerjasama ini menghasilkan cantuman katalog pada komputer untuk sejumlah perpustakaan yang berpartisipasi, baik dalam bentuk COM, maupun kartu katalog.
c.       Pada  akhir  tahun 1970 dan awal tahun1980, pengenalan komputer mikro ataumicrocomputer. Di era ini, berbagai perpustakaan semakin mandiri untuk menggunakan fasilitas komputer yang diperoleh dari perusahaan yang dilanggan. Kemandirian ini mengarah kepada pengembangan dan perancangan sistem sendiri atau disebut dengan in-house system. Penggunaan komputer mikro menjadi terkenal karena menyediakan fasilitas untuk melakukan akses secara terpasang atau online terhadap berbagai simpanan seperti file dalam  sistem sirkulasi. Perkembangan lain yang terjadi pada masa ini, ialah penyediaan paket perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (software) atau turnkey sistem untuk perpustakaan oleh beberapa perusahaan. Sistem tersebut menggabungkan sejumlah fasilitas, diantaranya fasilitas penelusuran dan sistem sirkulasi. Karena sistem komputer yang digunakan pada masa itu di perpustakaan mampu menelusur cantuman bibiliografi secara online, sehingga sistem itu disebut sebagai sistem OPAC. Munculnya sistem OPAC di sejumlah perpustakaan tertentu, merupakan perkembangan utama yang terjadi dalam automasi perpustakaan sampai awal tahun 1980
d.      Pertengahan sampai Akhir Tahun 1980-an, perpustakaan yang menggunakan sistem OPAC semakin meningkat. Pemasukan mulai menyediakan sistem yang terintegrasi (integrated system) untuk manajemen perpustakaan, mencakup modul atau sub-sistem yang berbeda, seperti pengatalogan, akuisisi, sirkulasi, pengawasan serial, layanan antar perpustakaan dan juga OPAC. Keuntungan sistem bagi kegiatan penelusuran ialah, sistem memperbolehkan pengguna mengakses modul OPAC untuk mengetahui status pinjam dari semua bahan pustaka yang ada di perpustakaan tertentu. Setiap pengguna yang sedang mengakses OPAC dimungkinkan bisa mengetahui status suatu bahan pustaka, apakah sedang tersedia atau sedang dipinjam, siapa peminjamnya, berapa lama dipinjam, kapan dikembalikan dan sebagainya. Hal ini dapat dilakukan, karena sistem menghubungkan  file katalog dengan file  sirkulasi. Sejumlah perpustakaan Perguruan tinggi dan perpustakaan umum telah menggunakan sistem manajemen perpustakaan yang terintegrasi, lengkap dengan modul OPAC. Sistem OPAC mulai dikembangkan berdasarkan kebutuhan pengguna
e.       Pada tahun 1990, sudah terlihat perubahan besar pada sistem manajemen perpustakaan dan dapat digunakan hingga sekarang.
Katalog dapat didefenisikan sebagai daftar barang yang berada pada suatu tempat. Dengan demikian katalog perpustakaan adalah daftar bahan pustaka yang ada dalam perpustakaan. Untuk mencapai kepada pemakai bahan pustaka dan apa yang dimiliki perpustakaan, disediakan katalog yang mencatat ciri masing-masing bahan pustaka yang diperlukan untuk mengindenfikasikannya dan membedakan satu bahan pustaka dari bahan pustaka yang lain. Untuk mencari kembali bahan pustaka tertentu dalam koleksi perpustakaan, katalog merupakan alat pencari yang terpenting. Akan sulit sekali, bahkan sangat mustahil, untuk menggunakan perpustakaan besar tanpa adanya katalog. Katalog perpustakaan dapat dikatakan  kunci untuk menemukan bahan pustaka dalam koleksi perpustakaan.
Ada 3 jenis pekerjaan yang diperlukan dalam proses pembuatan katalog,
1.      Pembuatan deskripsi fisik dari bahan pustaka itu
2.      Penentuan subyek yang dibahas dalam buku itu,
3.      Penyusunan kartu-kartu dalam katalog
Ada beberapa hal yang selalu perlu diperhatikan dalam menyusun katalog, yaitu :
1.      Katalog harus dibuat dengan cara yang seragam
2.      Syarat yang telah ditetapkan harus selaluditaati
3.      Ketelitian dalam setiap langkah pekerjaan harus diperhatikan

Pengertian Katalog Manual “dulu” dan Katalog On Line “kini”
    
      1)     Katalog Manual atau katalog dulu

Gates menyatakan bahwa, katalog perpustakaan adalah suatu daftar yang sistematis dari buku dan bahan-bahan lain dalam suatu perpustakaan, dengan informasi deskriptif mengenai pengarang, judul, penerbit, tahun terbit, bentuk fisik,subjek, ciri khas bahan dan tempatnya. Pendapat ini menjelaskan apa yang menjad ientri dari suatu katalog. Katalog memuat informasi deskriptif mengenai berbagai hal,seperti pengarang, judul, penerbit dan sebagainya. Dengan perkataan lain, pada suatu katalog dicacat sejumlah informasi bibliografis dari suatu dokumen atau bahan pustaka.Menurut Sulistyo Basuki, katalog manual terdiri dari tiga jenis yaitu katalog kartu, katalog buku, dan katalog berkas. Berikut adalah pengertian dari masing-masing katalog manual tersebut.Katalog kartu adalah bentuk katalog perpustakaan yang semua deskripsi bibliografinya dicatat pada kartu berukuran 7.5 x 12.5 cm. Katalog kartu disusun secara sistematis pada laci katalog. Katalog kartu masih banyak digunakan pada berbagai jenis perpustakaan di Indonesia hingga saat ini.Katalog buku adalah katalog tercetak atau katalog buku berbasis cetakan komputer. Pada katalog buku terdapat sejumlah entri yang tercetak pada setiap halaman. Dengan demikian katalog bentuk buku dapat dicetak sesuai dengan kebutuhan.Katalog berkas adalah kumpulan kertas atau kartu dalam bentuk selembar kertas berukuran 7.5 x 12.5 cm atau 10 x 15 cm. Masing-masing lembar berisi data katalog. Pada bagian kiri diberi lubang, kemudian diikat atau dijilid. Pada bagian depan dan belakang diberi karton tebal berfungsi sebagai pelindung. Setiap berkas dapat membuat antara 500 hingga 600 lembar. Berkas yang sudah terjilid kemudian disusun menurut nomor berkas.

      2)     Katalog on line atau katalog kini

Katalog komputer terpasang (online computer catalog) sering disebut dengan online public access catalogue (OPAC), adalah bentuk katalog terbaru yang telah digunakan pada sejumlah perpustakaan tertentu. OPAC cepat menjadi pilihan katalog yang digunakan di berbagai jenis perpustakaan. Dari berbagai bentuk fisik katalog yang telah digunakan di perpustakaan, ternyata OPAC dianggap paling luwes( flexible) dan paling mutakhir.

Istilah baku untuk online public access catalogue (OPAC) dalam bahasa Indonesia, hingga saat ini belum terumuskan dengan pasti. Ada perpustakaan yang menyebutnya dengan istilah katalog online atau katalog terpasang, dan ada juga yang tetap menyebutnya dengan OPAC. Selain itu, ada juga perpustakaan yangmenyebutnya dengan Katalog Akses Umum Talian, disingkat  KAUT.OPAC juga bisa diartikan sebagai suatu pangkalan data koleksi perpustakaan tertentu. OPAC menyediakan akses secara on line tentang koleksi perpustakaan melalui terminal komputer. Pengguna dapat melakukan penelusuran melalui pengarang, judul, subjek, kata kunci sebagaimana biasa dilakukan pada katalog normal. Melalui OPAC, pengguna dapat mengetahui judul, subjek, eksemplar, dan sebagainya dari koleksi suatu perpustakaan

Manfaat katalog dulu dan kini

Katalog dulu atau katalog manual
1.     Praktis, sehingga setiap kali penambahan buku baru diperpustakaan tidak akan menimbulkan masalah, karena entri baru dapat disisipkan pada jajaran kartu yang ada
2.     Tidak dipengaruhi faktor luar, misalnya terputusnya aliran listrik
3.     Kemungkinan rusak sangat kecil terkecuali jika perpustakaan terbakar.
4.     Dapat dicetak sesuai dengan kebutuhan
5.     Dapat diletakkan pada berbagai tempat
6.     Mudah disebarluasakan ke perpustakaan lain
7.     Entri pada katalog berbentuk buku dapat ditemukan dengan cepat
8.     Mudah menyimpannya
9.     Mudah menanganinya 



    Katalog kini atau katalog on line

1. Cantuman bibliografi pada OPAC dapat ditelusur dalam berbagai cara dan dapat ditampilkan pada berbagai     bentuk format tampilan, sedangkan pada katalog kartu hal itu tidak mungkin.
2. OPAC dapat memberi reaksi dan merespon pengguna dalam suatu cara yang cerdas.
3. Menghemat waktu. 
4. Dapat diakses melalui terminal pada tempat yang berbeda dari dalam atau dari luar gedung perpustakaan,       melalui local area networks (LAN) dan wide area networks (WAN).
5. Bantuan temu balik (retrieval aids).
6. Bantuan bahasa (linguistic aids).
7. Bantuan menjelajah (navigational aids).
8. Bantuan arti kata (semantic aids).

Kesimpulan

Penelusuran bahan pustaka menggunakan katalog online merupakan alat bantu penelusuran yang tepat, cepat dan efektif. Dengan katalog online pengguna perpustakaan mendapatkan beberapa manfaat antara lain :penelusuran informasi dapat dilakukan dengan cepat dan tepat, penelusuran dapat dilakukan dimana saja tidak harus datang ke perpustakaan,menghemat waktu dan tenaga,
pengguna dapat mengetahui keberadaan koleksi dan status koleksi apakah sedang dipinjam atau tidakpengguna mendapatkan peluang lebih banyak dalam menelusur bahan pustaka
dapat menemukan kembali bahan pustaka yang dibutuhkan.


Daftar Pustaka
Academia. Perbandingan tingkat penggunaan katalog manual dengan katalog on line. Diakses 13 februari 2018
Saputro, ramadhanni. (2017) Manfaat Katalog dulu dan kini, Diakses 13 februari 2018 
Perpustakaan, ilmu (2016) sejarah katalogisasi. Diakses 13 februari 2018

Tidak ada komentar:

Posting Komentar