Manfaat Katalog : Dulu dan Kini
Oleh :
Putu Eka Rani (1712312008)
Progaram D3
Perpustakaan FISIP Universitas Udayana
Abstrak
Tujuan yang terdapat dalam penulisan makalah
ini, adalah untuk memberikan informasi kepada para pembaca mengenai manafaat
katalog dulu dan kini, di dalam makalah ini juga memberikan gambaran untuk
mengetahui apa saja manfaat katalog di perpustakaan pada waktu dulu dan kini.
dan untuk mengetahui contoh bentuk fisik katalog dari masa ke masa berfokus
pada katalog yang telah di tetapkan, mengingat kegiatan katalogisasi adalah
suatu hal yang sangat penting di perpustakaan
Kata kunci : manfaat
katalog dulu dan kini
Latar belakang
Penggunaan katalog
sangatlah banyak manfaatnya bagi pengguna. Katalog merupakan wakil dari bahan
pustaka yang dimiliki oleh perpustakaan, maka katalog dapat memberikan
informasi mengenai bahan pustaka tersebut. Katalog juga dapat mempercepat dan
mempermudah kegiatan penelusuran informasi terhadap bahan pustaka. Selain
katalog manual (kartu), katalog juga terdapat dalam bentuk on line
(elektronik). Kedua jenis katalog ini mempunyai manfaatnya masing –
masing. Katalog perpustakaan
dari masa-kemasa telah mengalami inovasi. Inovasi terhadap katalog perpustakaan
ditujukan untuk memberi kemudahan kepada pengguna perpustakaan dalam
menemu-balikkan bahan pustaka yang diinginkannya dari perpustakaan. Tulisan ini
mencoba akan menguraikan pengertian, fungsi dan bentuk fisik dari katalog
perpustakaan. Diuraikan juga manfaat di katalog perpustakaan yang manual atau
katalog dulu dengan katalog online atau katalog kini.
Pengertian
Katalog atau katalogus dalam pengertian umum adalah daftar nama-nama,
tempat dan barang-barang. Katalog dalam pengertian khusus yakni yang
dikenal dalam dunia perpustakaan, adalah daftar bahan pustaka
/ koleksi yang dimiliki oleh satu atau beberapa perpustakaan
yang disusun menurut system tertentu. Bahan pustaka meliputi buku,
terbitan berkala, slide, piringan hitam, pita kaset, microfilm, CD ROM dll.
Katalogisasi adalah proses pembuatan katalog. Secara luas kegiatan tersebut
dapat dibagi kepada dua (2) macam yaitu katalogisasi deskriptif dan katalogisasi
subyek. Katalogisasi deskriptif adalah kegiatan merekam dan
mengidentifikasi data bibliografi, yakni data mengenai pengarang, judul, tempat
terbit, penerbit, tahun terbit, edisi dan data buku lainnya yang
diperlukan. Katalogisasi subyek ialah proses menentukan tajuk subyek dan nomor
klasifikasi. Dalam hal terkahir ini prosesnya disebut juga klasifikasi.
Agar bahan pustaka dapat didayagunakan secara efektif dan efisien, perlu
adanya pengolahan bahan pustaka ( proses kartalogisasi tersebut).
Lebih-lebih dengan berkembangnya teknik produksi buku yang mengakibatkan
koleksi buku berkembang menjadi besar, maka seamakin terasa perlunya katalog.
Tanpa diadakan katalogisasi, mencari buku-buku yang diperlukan akan
sulit. Oleh karena itu pustakawan mencari sarana atau alat yang
dapat memberikan gambaran tentang suatu buku / bahan
pustaka dalam bentuk catatan serta mengatur buku-buku di rak untuk
memudahkan menemukan kembali jika diperlukan. Alat itulah yang kemudian disebut
katalog atau katalogus.
Untuk memudahkhan proses pertukaran informasi antar perpustakaan atau
pusat-pusat informasi lainnya, perlu adanya keseragaman dalam katalogisasi.
Maka kemudian pada tahun 1967 diterbitkanlah suatu peraturan / pedoman
katalogisasi internasional, yaitu Anglo American Cataloging Rules
(AACR2). Dan dalam konteks Indonesia, disusun pula Peraturan
Katalogisasi Indonesia, yang diterbitkan oleh Perpustakaan Nasional.
Fungsi Katalog
Ada beberapa fungsi
katalog antara lain sebagai berikut :
1. Sebagai
wakil ringkas dari dokumen / bahan pustaka yang dimiliki oleh perpustakaan.
2. Sebagai
sarana untuk menemukan kembali buku yang terdapat dalam koleksi perpustakaan.
3. Memberikan
informasi tentang ada tidaknya suatu buku dalam koleksi perpustakaan.
4. Membedakan
suatu karya dari karya lainnya yang mempunyai ciri yang sama.
5. Memudahkan pemakai jasa perpustakaan
menemukan informasi yang diinginkan baik dengan pendekatan
pengarang, judul atau subjectnya.
Bentuk-bentuk Katalog
Berikut adalah beberapa bentuk
fisik katalog :
1.
Katalog berbentuk kartu
Katalog ini berukuran 7 X 12 cm. Bentuk inilah yang paling banyak digunakan
perpustakaan. Katalog-katalog yang berbentuk kartu yang
telah tersusun secara sistematis dalam laci-laci katalog dapat
menerima entri-entri baru tanpa merubah susunan yang ada.
2.
Katalog
berbentuk lembaran-lembaran lepas
kemudian dibendel (dijilid) menjadi satu atau beberapa berkas setelah
disusun menurut system tertentu, contoh : Katalog Perpustakaan Muslim Nasional.
3.
Katalog
berbentuk tercetak
Setelah uraian-uraian katalog disusun menurut system tertentu, kemudian
dicetak menjadi semacam bibliografi sebanyak yang diperlukan. Kelebihan
bentuk ini ialah katalog dapat diperbanyak dan dibawa
kemana-mana. Tetapi kelemahannya tidak dapat menerima entri-entri baru. Ini
berarti entri baru harus disusun dan dicetak sebagai suplemen.
4.
Katalog
Elektronik
Bentuk katalog ini muncul berkat kemajuan di bidang teknologi informasi
seperti komputer. Dalam hal ini katalog berada dalam suatu basis data di
komputer, sehingga tidak perlu lagi diadakan penyusunan dengan sistematika
tertentu seperti bentuk lainnya. Kelebihan katalog bentuk ini adalah lebih
cepat dan mudah diakses, menghemat tenaga dan biaya dalam pembuatannya, dan
entri-entri baru dapat dimasukkan setiap saat. Kelemahannya ialah jika listrik
padam, maka tidak bisa dipergunakan.
Selanjutnya, dari katalog komputer
ini kemudian bisa diformat dalam bentuk CD-ROM. Kelebihannya ia bisa dibawa
kemana-mana, tetapi untuk mengaksesnya tetap saja diperlukan perangkat komputer.
Tujuan
a.
Memungkinkan
seorang meemukan sebuah buku yang diketahui pengarangnya, judulnya atau
subjeknya
b.
Menunjukan
buku yang dimiliki perpustakaan oleh pengarang tertentu, berdasarkan subjek
tertentu dan dalam jenis literature tertentu
c.
Membantu
dalam pemilihan buku berdasarkan edisinya dan berdasakan karakternya (sastra ataukah berdasarkan topik)
Sejarah
Pada awalnya
katalogisasi digunakan untuk daftar peralatan militer Amerika dan untuk
kepentingan lainnya. Pada tahun 1929, pemerintahan Amerika Serikat mulai
menggunakan katalogisasi berdasarkan keinginan masing-masing departemen. Pada
tahun 1932, Presiden Roosevelt membuat katalogisasi seragam akan tetapi tidak
semua departemen mengikuti penyeragaman katalog tersebut. Akibatnya,
pengkatalogan peralatan militer menjadi kacau, kekacauan ini berimbas pada
keuangan dan dapat membahayakan Negara.
Pada tanggal 03 juli
1947, Angkatan Laut dan Angkatan Darat Amerika Serikat menetapkan keseragaman
katalogisasi. Hal ini diperkuat oleh adanya Undang-Undang tentang Katalogisasi
dan standardisasi Pertahanan. Ketetapan ini dikikuti oleh Negara-negara
kelompok NATO yang mulai menggunakan proses yang sangat sederhana. Namun, pada
tahun 1965, katalogisasi berkembang dan telah menggunakan proses computer.
Amerika Serikat telah meresmikan penggunaan NSN pada tahun 1975. Setelah
Amerika Serikat meresmikan penggunaan NSN, banyak Megara di dunia yang telah
mengukiti jejak Amerika Serikat untuk menggunakan NSN termasuk salah satunya
adalah Indonesia.
Amerika Serikat menjadi Negara
pertama berlangsungnya sejarah dan perkembangan katalogisasi. Meskipun pada
awalnya menggunakan proses yang sangat sederhana,seiring dengan perkembangan
zaman, katalogisasi menggunakan bentuk dan proses yang lebih canggih lagi,
kecanggihan itupun semakin lama semakin mempermuda seseorang dalam mencari
daftar apa yang diinginkan.
Dalam perjalanan sejarah yang cukup
panjang, katalog perpustakaan telah mengalami perkembangan dan perubahan
seiring dengan perkembangan teknologi informasi dan perubahan perilaku
pencarian informasi para penggunanya atau bisa disebut denganinformation
seeking behavior. Perubahan tersebut terjadi dari katalog yang pada awalnya
berbentuk buku, kartu, hingga menjadi Online Public Access Catalog (OPAC). Hal
ini menunjukkan bahwa sesungguhnya katalog perpustakaan dari waktu ke waktu
dapat menyesuaikan diri dengan setiap perkembangan yang terjadi, terutama
berkaitan dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Disamping
itu, setiap perubahan atau inovasi yang terjadi pada katalog perpustakaan juga
dimaksudkan untuk memberi kemudahan kepada pengguna dalam menggunakan atau
mengaksesnya untuk menelusuri bahan pustaka yang dibutuhkan di perpustakaan.
Perkembangan teknologi komputer dan
produksi dokumen elektronik menjadi tantangan bagi perpustakaan saat ini jika
dibandingkan dengan tantangan yang dihadapi oleh perpustakaan lima puluh tahun
yang lalu dimana saat itu yang menjadi inti koleksi perpustakaan hanyalah
buku-buku dan majalah-majalah yang hanya dapat ditelusuri dengan menggunakan
katalog kartu saja. Meskipun demikian pengaruh teknologi komputer dan jaringan
informasi terhadap misi perpustakaan masih diperdebatkan tetapi eksistensi
perpustakaan masa depan tergantung pada kemampuan perpustakaan dalam merespon
teknologi saat ini dan yang akan datang. Salah satu respon penting yang harus
dilakukan oleh perpustakaan adalah melakukan perubahan pada katalognya. Supaya
pengguna lebih mudah mengakses informasi melalui katalog.
Seiring dengan perkembangan automasi
perpustakaan Tedd (1994, 27-37) menguraikan secara kronologis bahwasanya
perkembangan system OPAC dan automasi diperpustakaan sebagai berikut :
a. Pada
tahun 1960 komputer sudah digunakan di berbagai perpustakaan umum dan perguruan
tinggi untuk membantu cara membuat katalog. Pada saat itu, pengoperasian sistem
komputer masih berada pada mode atau cara yang sangat bervariasi atau
bermacam-macam, sehingga kemungkinan untuk melakukan penelusuran informasi
dengan katalog secara terpasang (online) dianggap masih jauh dari kenyataan.
Pada awal tahun 1970, sejumlah perpustakaan mulai menggunakan sistem komputer
induk untuk mengembangkan sistem lokal. Sistem lokal ini umumnya didesain dan
dirancang oleh staf dari pusat komputer.
b. Pertengahan
tahun 1970 komputer mulai digunakan untuk proses pengawasan sirkulasi atau
perubahan di perpustakaan. Sistem komputer digunakan untuk tujuan pengumpulan
data, khususnya pencatatan peminjaman. Computer Output On Microfilm (COM)
menjadi metode yang terkenal digunakan untuk menghasilkan katalog. Perkembangan
pada masa ini, ditandai dengan munculnya sistem
kerjasama pengatalogan dan pemanfaatan
bersama, dari berbagai perpustakaan. Misalnya, di Inggris London and
South Eastern Library Region (LASER), dan di Amerika Utara Ohio College
Library Centre (OCLC). Sistem kerjasama ini menghasilkan cantuman
katalog pada komputer untuk sejumlah perpustakaan yang berpartisipasi, baik
dalam bentuk COM, maupun kartu katalog.
c. Pada
akhir tahun 1970 dan awal tahun1980, pengenalan komputer mikro ataumicrocomputer.
Di era ini, berbagai perpustakaan semakin mandiri untuk menggunakan fasilitas
komputer yang diperoleh dari perusahaan yang dilanggan. Kemandirian ini
mengarah kepada pengembangan dan perancangan sistem sendiri atau disebut dengan in-house
system. Penggunaan komputer mikro menjadi terkenal karena menyediakan
fasilitas untuk melakukan akses secara terpasang atau online terhadap
berbagai simpanan seperti file dalam sistem sirkulasi. Perkembangan lain
yang terjadi pada masa ini, ialah penyediaan paket perangkat keras (hardware)
dan perangkat lunak (software) atau turnkey sistem untuk
perpustakaan oleh beberapa perusahaan. Sistem tersebut menggabungkan sejumlah
fasilitas, diantaranya fasilitas penelusuran dan sistem sirkulasi. Karena sistem
komputer yang digunakan pada masa itu di perpustakaan mampu menelusur cantuman
bibiliografi secara online, sehingga sistem itu disebut sebagai sistem OPAC.
Munculnya sistem OPAC di sejumlah perpustakaan tertentu, merupakan perkembangan
utama yang terjadi dalam automasi perpustakaan sampai awal tahun 1980
d. Pertengahan
sampai Akhir Tahun 1980-an, perpustakaan yang menggunakan sistem OPAC semakin
meningkat. Pemasukan mulai menyediakan sistem yang terintegrasi (integrated
system) untuk manajemen perpustakaan, mencakup modul atau sub-sistem
yang berbeda, seperti pengatalogan, akuisisi, sirkulasi, pengawasan serial,
layanan antar perpustakaan dan juga OPAC. Keuntungan sistem bagi kegiatan
penelusuran ialah, sistem memperbolehkan pengguna mengakses modul OPAC untuk
mengetahui status pinjam dari semua bahan pustaka yang ada di perpustakaan
tertentu. Setiap pengguna yang sedang mengakses OPAC dimungkinkan bisa
mengetahui status suatu bahan pustaka, apakah sedang tersedia atau sedang
dipinjam, siapa peminjamnya, berapa lama dipinjam, kapan dikembalikan dan
sebagainya. Hal ini dapat dilakukan, karena sistem menghubungkan file
katalog dengan file sirkulasi. Sejumlah perpustakaan Perguruan
tinggi dan perpustakaan umum telah menggunakan sistem manajemen perpustakaan
yang terintegrasi, lengkap dengan modul OPAC. Sistem OPAC mulai dikembangkan
berdasarkan kebutuhan pengguna
e. Pada
tahun 1990, sudah terlihat perubahan besar pada sistem manajemen perpustakaan
dan dapat digunakan hingga sekarang.
Katalog dapat didefenisikan sebagai daftar barang yang
berada pada suatu tempat. Dengan demikian katalog perpustakaan adalah daftar
bahan pustaka yang ada dalam perpustakaan. Untuk mencapai kepada pemakai bahan
pustaka dan apa yang dimiliki perpustakaan, disediakan katalog yang mencatat
ciri masing-masing bahan pustaka yang diperlukan untuk mengindenfikasikannya
dan membedakan satu bahan pustaka dari bahan pustaka yang lain. Untuk mencari
kembali bahan pustaka tertentu dalam koleksi perpustakaan, katalog merupakan alat
pencari yang terpenting. Akan sulit sekali, bahkan sangat mustahil, untuk
menggunakan perpustakaan besar tanpa adanya katalog. Katalog perpustakaan dapat
dikatakan kunci untuk menemukan bahan pustaka dalam koleksi perpustakaan.
Ada 3 jenis pekerjaan yang
diperlukan dalam proses pembuatan katalog,
1. Pembuatan
deskripsi fisik dari bahan pustaka itu
2. Penentuan
subyek yang dibahas dalam buku itu,
3. Penyusunan
kartu-kartu dalam katalog
Ada beberapa hal yang selalu perlu
diperhatikan dalam menyusun katalog, yaitu :
1. Katalog
harus dibuat dengan cara yang seragam
2. Syarat
yang telah ditetapkan harus selaluditaati
3. Ketelitian
dalam setiap langkah pekerjaan harus diperhatikan
Pengertian Katalog Manual “dulu” dan Katalog On Line
“kini”
1) Katalog
Manual atau katalog dulu
Gates menyatakan bahwa, katalog perpustakaan
adalah suatu daftar yang sistematis dari buku dan bahan-bahan lain dalam suatu
perpustakaan, dengan informasi deskriptif mengenai pengarang, judul, penerbit,
tahun terbit, bentuk fisik,subjek, ciri khas bahan dan tempatnya. Pendapat ini
menjelaskan apa yang menjad ientri dari suatu katalog. Katalog memuat informasi
deskriptif mengenai berbagai hal,seperti pengarang, judul, penerbit dan
sebagainya. Dengan perkataan lain, pada suatu katalog dicacat sejumlah
informasi bibliografis dari suatu dokumen atau bahan pustaka.Menurut Sulistyo
Basuki, katalog manual terdiri dari tiga jenis yaitu katalog kartu, katalog
buku, dan katalog berkas. Berikut adalah pengertian dari masing-masing katalog
manual tersebut.Katalog kartu adalah bentuk katalog perpustakaan yang semua
deskripsi bibliografinya dicatat pada kartu berukuran 7.5 x 12.5 cm. Katalog
kartu disusun secara sistematis pada laci katalog. Katalog kartu masih banyak
digunakan pada berbagai jenis perpustakaan di Indonesia hingga saat ini.Katalog
buku adalah katalog tercetak atau katalog buku berbasis cetakan komputer. Pada
katalog buku terdapat sejumlah entri yang tercetak pada setiap halaman. Dengan
demikian katalog bentuk buku dapat dicetak sesuai dengan kebutuhan.Katalog
berkas adalah kumpulan kertas atau kartu dalam bentuk selembar kertas berukuran
7.5 x 12.5 cm atau 10 x 15 cm. Masing-masing lembar berisi data katalog. Pada
bagian kiri diberi lubang, kemudian diikat atau dijilid. Pada bagian depan dan
belakang diberi karton tebal berfungsi sebagai pelindung. Setiap berkas dapat
membuat antara 500 hingga 600 lembar. Berkas yang sudah terjilid kemudian
disusun menurut nomor berkas.
2) Katalog on line
atau katalog kini
Katalog komputer terpasang (online computer
catalog) sering disebut dengan online public access catalogue (OPAC),
adalah bentuk katalog terbaru yang telah digunakan pada sejumlah perpustakaan
tertentu. OPAC cepat menjadi pilihan katalog yang digunakan di berbagai jenis
perpustakaan. Dari berbagai bentuk fisik katalog yang telah digunakan di
perpustakaan, ternyata OPAC dianggap paling luwes( flexible) dan
paling mutakhir.
Istilah baku untuk online public
access catalogue (OPAC) dalam bahasa Indonesia, hingga saat ini belum
terumuskan dengan pasti. Ada perpustakaan yang menyebutnya dengan istilah
katalog online atau katalog terpasang, dan ada juga yang tetap
menyebutnya dengan OPAC. Selain itu, ada juga perpustakaan yangmenyebutnya dengan
Katalog Akses Umum Talian, disingkat KAUT.OPAC juga bisa diartikan
sebagai suatu pangkalan data koleksi perpustakaan tertentu. OPAC menyediakan
akses secara on line tentang koleksi perpustakaan melalui
terminal komputer. Pengguna dapat melakukan penelusuran melalui pengarang,
judul, subjek, kata kunci sebagaimana biasa dilakukan pada katalog normal.
Melalui OPAC, pengguna dapat mengetahui judul, subjek, eksemplar, dan
sebagainya dari koleksi suatu perpustakaan
Manfaat katalog dulu dan kini
Katalog dulu atau katalog manual
1.
Praktis, sehingga
setiap kali penambahan buku baru diperpustakaan tidak akan menimbulkan masalah,
karena entri baru dapat disisipkan pada jajaran kartu yang ada
2.
Tidak dipengaruhi
faktor luar, misalnya terputusnya aliran listrik
3.
Kemungkinan rusak
sangat kecil terkecuali jika perpustakaan terbakar.
4.
Dapat dicetak sesuai
dengan kebutuhan
5.
Dapat diletakkan pada
berbagai tempat
6.
Mudah disebarluasakan
ke perpustakaan lain
7.
Entri pada katalog
berbentuk buku dapat ditemukan dengan cepat
8.
Mudah menyimpannya
9.
Mudah
menanganinya
Katalog kini atau katalog on line
1. Cantuman
bibliografi pada OPAC dapat ditelusur dalam berbagai cara dan dapat ditampilkan
pada berbagai bentuk format tampilan, sedangkan pada katalog
kartu hal itu tidak mungkin.
2. OPAC dapat memberi reaksi dan merespon
pengguna dalam suatu cara yang cerdas.
3. Menghemat waktu.
4. Dapat
diakses melalui terminal pada tempat yang berbeda dari dalam atau dari luar
gedung perpustakaan, melalui local area networks (LAN) dan wide
area networks (WAN).
5. Bantuan temu balik (retrieval aids).
6. Bantuan bahasa (linguistic aids).
7. Bantuan menjelajah (navigational
aids).
8. Bantuan arti kata (semantic aids).
Kesimpulan
Penelusuran bahan pustaka
menggunakan katalog online merupakan alat bantu penelusuran yang tepat, cepat
dan efektif. Dengan katalog online pengguna perpustakaan mendapatkan beberapa
manfaat antara lain :penelusuran informasi dapat dilakukan dengan cepat dan
tepat, penelusuran dapat dilakukan dimana saja tidak harus
datang ke perpustakaan,menghemat waktu dan tenaga,
pengguna dapat mengetahui keberadaan koleksi dan status koleksi apakah sedang dipinjam atau tidak, pengguna mendapatkan peluang lebih banyak dalam menelusur bahan pustaka
dapat menemukan kembali bahan pustaka yang dibutuhkan.
pengguna dapat mengetahui keberadaan koleksi dan status koleksi apakah sedang dipinjam atau tidak, pengguna mendapatkan peluang lebih banyak dalam menelusur bahan pustaka
dapat menemukan kembali bahan pustaka yang dibutuhkan.
Daftar Pustaka
Academia. Perbandingan tingkat penggunaan katalog manual
dengan katalog on line. Diakses 13 februari 2018
Saputro, ramadhanni.
(2017) Manfaat Katalog dulu dan kini,
Diakses 13 februari 2018
Perpustakaan, ilmu
(2016) sejarah katalogisasi. Diakses
13 februari 2018
Tidak ada komentar:
Posting Komentar